Safura


Selasa Pagi

img_4336

Pencitraan

Dan mulai sejuk. Yeyey. Setelah hampir dua bulan cuacanya bikin pengen “beli kabut Ciwidey” (pidi baiq).


Antasari Azhar

img_3934

 

Pak…bongkar rahasianya Pak. Usia Bapak sudah 64 tahun tapi masya Allah kulitnya masih bagus T_T Mustahil Bapak memakai produk kecantikan dari dokter kulit ataupun yang dijual bebas di pasaran. Ataukah sesungguhnya Bapak rajin mengoleskan krim pelembab setiap malam? Sulit membayangkannya Pak. Masa Bapak rajin facial? Duh… Semoga kebenaran segera terungkap. Asli ih penasaran. *gadhul bashar


Federer

Federer yang menang 🙂

Dulu ga pernah nonton tenis dan hanya tahu Federer dari fotonya di halaman berita olahraga di koran. Atau di majalah, iklan jam tangan. Waktu itu mikirnya, orang ini katanya juara tenis…tapi potongannya kok bukan kayak petenis ya? Wkwkkk sotoy abis. Padahal nggak ngerti dan ga pernah (tertarik) nonton tennis juga. Cuman dari tampilannya di foto, kayaknya orangnya bukan tipe sports man gitu… Misalkan dibandingkan dengan (foto) Nadal. Hihi…taunya foto doang. Don’t judge sportsmen by their photograph.

Setelah itu ternyata punya suami hobi tenis, jadinya suka ikutan nonton juga kalau ada pertandingan tennis di TV. Barulah terkaget-kaget lihat Federer main. Amazing. Hebat banget ternyata!

Selain itu orangnya tenang banget pembawaannya, ga emosian. Di saat ketinggalan skor dia tampak tenang. Saat kemenangan di depan mata juga dia tetap kelihatan tenang. Kadang kan ada yang emosian kayak misuh-misuh atau banting raket saat under pressure, tapi si kangmas ini stabil emosinya. Mature banget dan berwibawa. Haha apa coba.

Malam ini Federer menang, setelah beberapa saat sempat vakum dari tennis karena injury. Lalu dalam pidato kemenangannya dia bilang, mengingat kondisi yang mereka alami beberapa bulan sebelum ini (Nadal juga sempat cedera), dia ga nyangka kalau dua-duanya bisa bertanding sampai ke babak final Grand Slam Australian Open. Dan seandainya malam ini kalah dari Nadal pun dia ikhlas. Sayang dalam tennis ga ada hasil imbang, seandainya ada “draw”, kata Federer, dia rela membagi kemenangannya dengan Nadal.

Aih. So sweet.

Federer juga tipe family man. Sewaktu dia menang di babak perempat final, dalam post-match wawancaranya ia bercerita kalau keempat anaknya yang juga ikut ke Australia senang berada di negeri Kanguru ini. Dia bilang setiap hari mereka sibuk kesana-kesini mengunjungi ini-itu. Setiap Federer mau tanding mereka bilang, “please don’t lose, Dad.” Soalnya mereka masih pengen tinggal lebih lama disini. Hahaha. Tapi kemudian sebelum dia tanding perempat final, anak perempuannya bilang, “Now it’s okay, Dad (to lose)”. Soalnya mereka ingin pergi ke New Zealand. Bahahaha

Istrinya Federer juga sederhana banget, bukan selebritis dan penampilannya juga ga macem-macem. Sama kayak pacarnya Nadal yang cantik, kalem dan simpel. Sampai saya bilang sama suami, aku setuju Nadal sama dia. Wkwkkk, macam saya tantenya aja.

Anyway, dengan kemenangannya malam ini berarti Federer (35) sudah 18 kali jadi juara Grand Slam. Yey…selamat, om.


AO 2017

Malam ini final. Sudah genting. Duh milih siapa ya xD

img_3490

The King…

 


Medsos dan Propaganda Kebencian

Meski sudah menahan diri untuk tidak main medsos, ternyata masih sulit juga untuk tidak kepo. Hhhhh. Supaya tidak zbl sendiri melihat orang berantem di medsos, saya memilih untuk membaca hanya konten tulisan saja, dan menghindari kolom komentarnya. Alhamdulillah yah, berkurang kepenatan haha. Salah satu yang biasanya suka saya buka adalah akun Bu Dina Sulaeman.

Karena ada kaitannya dengan medsos dan propaganda kebencian, sekali ini saya ingin me-repost tulisan beliau. Tentang konflik Suriah yang disinggung Bu Dina dalam tulisannya, sejujurnya sempat membingungkan bagi saya karena di media berseliweran informasi-informasi yang saling bertentangan satu sama lain. Dikarenakan saya tidak berada langsung di TKP dan menyaksikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi, maka informasi yang lebih saya percayai adalah yang memiliki bukti-bukti ilmiah dan masuk di akal. Bagi saya, informasi dari Bu Dina sebagai analis geopolitik Timur Tengah sekaligus Doktor Hubungan Internasional adalah salah satunya. Dan alhamdulillah baru-baru ini, selain pernyataan dari Kedubes kita di Suriah, juga ada press release Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus yang mudah-mudahan bisa jadi petunjuk tentang kondisi yang sebenarnya terjadi disana, biar ga pada ribut lagi.

Menurut saya pribadi sejak awal, something really really fishy dalam konflik Suriah adalah, mengapa Israel, AS, dan sekutunya mendukung pemberontakan di Suriah?  Kalau mereka sudah terlibat, PASTI ada yang tidak beres.

Langsung lah, berikut tulisan dari Bu Dina yang dimuat di fan page FB nya.

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

Ketika Shah Reza Pahlevi masih berkuasa, Arab Saudi berhubungan baik dengan Iran. Saat Shah Reza datang ke Saudi, Pangeran Salman bahkan menyambutnya sambil menari. Tapi setelah Ayatullah Khomeini berkuasa, tiba-tiba saja Syiah disebut kafir. Padahal Shah Reza kan Syiah juga. Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa kafir tidaknya Syiah semata-mata urusan politik. Setelah Iran jadi Republik Islam dan memutuskan hubungan diplomatik dengan AS, buku-buku anti Syiah (buku agama) diproduksi secara masif dalam berbagai bahasa (disponsori Arab Saudi, sekutu AS). Ulama-ulama didikan Saudi disebarkan ke berbagai penjuru dunia membawa narasi Syiah bukan Islam. Untungnya banyak ulama yang lurus dan menyadari resiko yang besar jika umat Islam terus-menerus diadu domba seperti ini. Mereka pun menandatangani Risalah Amman pada 2005 yang antara lain menyatakan bahwa Syiah adalah bagian dari Islam. [ammanmessage.com, terjemahannya antara lain bisa baca di https://kabarislamia.com/…/sebarkan-risalah-amman-untuk-pe…/]

Tapi karena politik pula, ulama besar yang dulu menandatangani Risalah Amman dan berhubungan baik dengan Iran, Syekh Yusuf Qardhawi, pada 2013 mengeluarkan fatwa untuk memerangi/membunuh warga sipil, ulama, dan tentara Suriah yang mendukung Bashar Assad. Sulit diterima akal sehat, bukankah dalam Islam, perang itu ada etikanya? Bahkan sumber air dan pohon pun harus dijaga, lalu mengapa warga sipil dan ulama boleh diperangi/dibunuh?

Di era internet, media yang dipakai untuk menyebarkan kebencian adalah media online yang jangkauannya jauh lebih masif dan mengglobal. Tak heran bila sebuah negara (Suriah) bisa hancur gara-gara ini.
Baru-baru ini, Tim Cyber NU merilis daftar 208 situs radikal [http://www.dutaislam.com/…/kumpulan-situs-islam-radikal-dan…]. Saya tertegun membacanya. Bagaimana melawan ujaran kebencian yang mereka sebarkan setiap hari dengan amat masif, dengan berbungkus agama? Mereka bukannya memberikan pencerahan tentang bagaimana bangsa ini bisa maju, tetapi bagaimana agar semakin membenci.

Di video berikut saya sandingkan “fatwa” Yusuf Qardhawi, dan jawaban dari Mufti Suriah, Syekh Hassoun. (FYI, keduanya sama-sama Ahlus-sunnah). Semoga bisa membuat kita waspada, betapa kata-kata kebencian bisa menghancurkan sebuah negara dan mari bergerak menjadi agen perdamaian.

Saya optimis, bila kita semua bergerak, kalimat di judul bisa kita ubah menjadi “kebencian adalah fana, sedang cinta itu abadi”. Karena, setan (sumber kebencian) itu makhluk fana, sedangkan Tuhan Sang Pengasih adalah abadi.

Versi lengkap video bisa lihat di youtube https://www.youtube.com/watch?v=_xwbPnL7Kk4