Safura


Unnoticed

Siang itu saya naik taksi berdua Serena sepulang dari mega playgroup di daerah Sunset. Mega playgroup itu semacam event rutin (kalo tidak salah per tiga bulan sekali) yang diadakan oleh gabungan beberapa playgroup di kota ini. Biasanya tiap playgroup punya stand masing2 dan menyediakan aktivitas di tempat, seperti melukis, sensory play, face painting, crafting, dan semacamnya. Dan gratis, ditambah lagi dapat goodie bag yang isinya macam-macam. Happy.

Siang itu Neina pulang dalam keadaan mengantuk, jadi dia agak setengah cranky. Untungnya sopir taxi yang kami naiki adalah seorang bapak tua berwajah ramah. Dia menyapa saya dan Serena dengan suara ringan. Saya bersyukur dalam hati. Moga-moga kalau Serena rewel nanti ga dijutekin hahah.

Benar saja, sejak mulai naik Serena sudah tidak betah. Bawaannya pengen cepat-cepat sampai di rumah, pengen goler-goler di kasur. Jadi tiap kali dia “Eeeeee,” saya langsung mengalihkan perhatiannya sebelum naik level jadi tangisan. Saya alihkan pada burung, mobil, rumah, kuda, tiang listrik, apa saja asal bisa membuatnya tenang meski hanya sementara. Dalam hati saya sudah cemas…kapan sampenya iniii…udah takut Neina nangis…rasanya ga sabaran pengen cepat sampai rumah T_T

Untungnya Mount Isa kecil saja, sekitar 10 menit yang terasa lama karena rengekan Neina yang meski sebentar-sebentar tapi berkali-kali, akhirnya sampai juga kami di depan pagar rumah. Lalu pak sopir taksi yang ramah itu menoleh pada saya sambil bilang begini, “You did a great job! Berkali-kali aku pikir dia (maksudnya Neina) akan ‘meledak’, tapi kamu terus mengajaknya bicara apa saja dan berhasil bikin dia kooperatif sepanjang perjalanan.”

Hah…saya tidak menyangka bapak sopir akan bilang begitu.

“You did a great job!” Ulangnya lagi dengan nada impresif.

Ya ampuunnn pak…makasih loh…terharu banget ini. Hahaha. Entah wajah saya terlihat jelas sebagai 1st-time-mamak yang struggle atau bapak sopir memang baik dan selalu berkata positif untuk menyenangkan customernya, yang pasti ucapannya sungguh membikin hati mamak amatiran ini menghangat *sambil hidung kembang kempis.

Menjadi stay at home mamak memang tidak mudah, dan menjadi mamak sambil bekerja di luar sepertinya lebih tidak mudah lagi. Tepatnya, menjadi mamak itu yang tidak mudah. Maksud saya jika melihatnya sebagai profesi, menjadi mamak beda sekali dengan menjalani profesi kantoran. Kalau di kantor, reward dari kerja kita ada wujudnya, seperti bonus, kenaikan gaji, promosi, atau pujian dari bos. Sebagai mamak yang stay at home, kerjaan kita seolah unnoticed. Tidak ada promosi, kenaikan gaji, tepuk tangan, atau pujian. Ng…suami muji sih…setelah istrinya yang suruh 😭

I know kalau reward mamak datangnya langsung dari YME, kalau cukuplah reward itu melihat anak sehat, dst dst…I know, tapi bayangkanlah menjadi IRT yang setiap hari pekerjaannya seuplekan rumah, bersih2, masak, ngurusin bayi dari bangun sampai bobok, eek mamam nenen, pasang popok anak yang berjalan-jalan tidak mau diam, menyuapi anak hanya untuk dilepeh lagi, menggunting kukunya malam-malam saat dia tidur (karena saat dia melek yang ada adalah rebutan gunting kuku), mengepel tumpahan air susu, menginjak lepehannya, berusaha sabar waktu anak kabur2an tidak mau tidur, dan ketika pagi mengulang kembali rutinitas tadi, menurut ngana tidak berat?? Kalau sedang capek saya suka caper minta dipuji kerja keras saya wkwkkk…daripada caper di sosmed yekan…alhamdulillah yah sis, suami kalo lagi peka biasanya memuji tanpa diminta (sedangkan kita tahu bagaimana level kepekaan suami terhadap istri 😅)

Mohon maklum kalau biasanya kami ini mamak2 suka membangga-banggakan anaknya, supaya apa…supaya dipuji kalau anaknya pintar ini-itu berkat siapa sodara-sodara…mamaknya lah! Muahahah. *bapak2 harap legowo ya 😂

Tulisan ini tersimpan di hape sejak bulan Juli. Kebaca lagi hari ini, yang ternyata adalah hari ibu 💛

Buat semua calon ibu, untuk para ibu yang membesarkan anaknya di dunia, juga para ibu yang hanya bisa mendoakan anaknya yang sudah tiada, selamat hari ibu!

Advertisements

Cerita Saat Kau Lahir (dan Tips dari Bidan)

Tulisan ini sudah setahun lebih ada di draft. Kasihan dia 😁

Hei Serena yg baru nenen dan sekarang sedang mengeluarkan bunyi2 ajaib, kita lagi dengerin suara sungai dan brahm lullaby dari aplikasi white noise yang ku install kira2 sebulan sebelum kamu lahir. Sekarang umurmu sudah jalan 4 minggu, tapi berasa seperti 3 bulan. Berasa lamaa yaaa. Bukan karena kami tak menikmati, tp karena lebih banyak waktu terjaga dibanding tidur setelah ada kamu. Jadi hari berjalan agak meeelaambbaaat sedikit. Apalagi saat beberapa hari pertamamu, saat kita masih bermalam di RS. Nak, kamu sakses bikin ibu bapakmu babak belur di pagi hari, muka bengkak2 karena tidur tak nyenyak. Apalagi bapakmu yg saat itu sedang flu, kasihan sekali melihat matanya yang berair yang kutahu menahan pening tapi masih wara-wiri mengurusi keperluan kita, dan tidur yang sudah pasti tidak pernah nyenyak di seat-bed RS yang tidak nyaman. Tapi tentu saja dia tak pernah mengeluh. Lebih berat lagi ujiannya saat Ramadhan datang. Aku yang hampir setiap saat kelaparan, seringkali terpaksa menghabiskan makanan RS yang sayangnya enak-enak di depannya. Huhuhu. Juga di depan uti.

Uti pun besar kali lah Nak, pengorbanannya. Beliau rela tidur sendirian di flat selama beberapa malam saat kita masih belum pulang dari RS. Tapi kuyakin dg begitu menggembleng mental uti untuk kembali muda lagi. Hehehe. Maaf ya, Ti…dan terima kasih banyak2 sekaliii.

Oh iya, ada hal aneh jg yg terjadi berkaitan dg uti. Pernah beberapa kali kamu menangis tanpa sebab dg suara yang menggetarkan Townsville bagian kidul (we’re living in South Townsville, literally 😂) sampai kami panik harus bagaimana, tapi begitu tubuh kecilmu ada dalam gendongan uti, kamu lgs diam. Wowww. Aku takjub juga iri padanya. Barangkali butuh pengalaman 4 org anak dan 10 org cucu untuk sampai di level itu. Rupanya kamu tahu ya, mana yg sudah berpengalaman dengan yang amatiran.

Sini aku ceritakan sedikit bagaimana kemarin proses kelahiranmu. Kata dr Rene, karena suatu sebab, sebaiknya kamu dilahirkan dengan proses induksi saja. Lebih cepat dua minggu dari Hari Perkiraan Lahir. Baiklah, setelah agak ngotot menolak tapi tak berguna, itulah aku dan ayahmu di ruang bersalin sementara uti menunggu di kamar sambil berdoa.

Melahirkan ternyata selain fisik juga permainan pikiran. Awalnya aku semangat karena aktivitas yang kulakukan semenjak pagi bikin progres bukaan lumayan cepat. Dalam waktu sejam sejak senam2 dan jalan2, dikasi tahu bidan sudah bukaan dua. Asik. Sudah bangga2 sambil menghayal dan berharap progresnya akan cepat tanpa perlu infus pemicu kontraksi, ternyata dokter berkehendak lain. Berdasarkan observasi, infus tetap dipasang. Baiklah tak apa2, mudah2an bukaan akan semakin cepat meningkat.

Sejam kemudian yang tetap diisi jalan2, senam2 dan segala rupa, dokter datang memeriksa, dan ternyata dibilang baru bukaan 3. Omaygat, jerih payahku satu jam penuh 😭 cuma ngefek satu bukaan doang 😭 Tidak sabaran ya ibumu ini huhu. Lalu aku meneruskan usaha sambil meragukan diri sendiri. Akankah aku kuat melalui semua ini? Bukaan 10 masih jauh tsayy. Sementara itu kontraksi makin intens tapi aku gak berani berharap bukaanku saat itu lebih dari 5, takut kuciwa 😭 Saat itulah detik2 aku menyerah dan menanyakan pertanyaan sakral pada bidan, “Kalau aku mau walking epidural, masih bisa?” Dan dijawab dengan “aku harus periksa dulu bukaanmu.” Dan ternyata sudah bukaan 6. Dia bilang udah banyak nih progresnya. Tapi aku terlanjur tipis asa dan bertekad melanjutkan sisa perjalanan dg epidural ajaaaa. Pleaseee!!

Sementara itu bidannya masih konsultasi dg obgyn (yg sdg praktek di gedung sebelah) untuk menanyakan oke tidaknya aku pakai epidural. Yaa Salaaam 😭

Beberapa menit kmd (yang terasa seperti berhari2), obgyn datang dan menyempatkan diri untuk menjelaskan resikonya padaku 😭 kalau aku epidural skrg sudah ga mempan dosis paling minimum (walking epidural) karena sudah bukaan lanjut. Jadi bakalan pakai dosis normal, sehinggaaaaa kemungkinannya akan susah ngepush bayi nanti karenaaaaa urge to push nyaris ga ada (disebabkan mati rasa).

Setelah penjelasan itu dia masih menanyakan pertanyaan retoris, “apa kamu masih mau epidural?”  “YEEESSS!!!!” aku jawablah sambil teriak kesal. Wwkwkwkkk. Sebenernya bagus juga sih dia menjelaskan begitu…tapi namanya orang udah kesakitan. Udah tinggal suntik aja jebret sihhh!  Kalau aku pikir2 lagi skrg, saat itu mungkin aku sudah bukaan 8 karena dorongan ngepush sudah makin kuat.

Setelah teriakan YES ku, obgyn langsung gercep mendatangkan dokter anastesi. Yaaaaang maanaaaaa masih juga menjelaskan ini-itu ttg prosedur epidural dan resikonya. OMG 😭 JUST GIVE ME THAT da$n EPIDURAL ALREADYYYYY!! Alhamdulillah pada AKHIRNYA epidural disuntikkan juga melalui tulang belakangku, dan tak lama kemudian aku merasa enakan banget ya Allaahh 😭 Tahu gitu dari awal hahaha. Ayahmu ketawa2 aja karena dia memang saranin dari awal pake epidural, tapi akunya sok setrong (ketawa2nya waktu kamu udah lahir tapi, kalo pas lagi sakit gitu ketawa yang ada perang mahabharata 😆).

Dan memang, pas Midwife ngecek lagi ternyata sudah bukaan 10! Wkwkk semacam agak mubazir gitu masang epidural di bukaan 10 🤣 Udah mau brojol. Lagiaaan kaaan tadi harusnya langsung suntik aja dook…biar agak lamaan gitu ngerasain epiduralnya hihi.

Dan sekitar 30 menit kemudian, lahirlah kamu Neina, sambil menangis kencang. Alhamdulillah sehat walafiat. Dan terima kasih, tidak menyulitkan. Kalau kamu mau tahu seperti apa bahagianya kami, nanti, saat kau melahirkan anakmu sendiri barulah tahu rasanya.

Dan ingatlah Neina, jangan sepelekan jamu2an, sebab setelah melahirkan, badan serasa remuk redam. I just wish I got parem2an, boreh2an, dan bisa pijat urut kayak di Indonesia T_T

Info yang aku syukuri kudapat dari antenatal class:

– Tetap aktif ternyata benar bisa mengurangi rasa sakit. Tapi aku hanya sanggup sampai kira-kira bukaan 5. Bukaan 6 ke atas tak berdayaguna di atas kasur.

– Ngepush baby nya diarahkan ke back passage, bukan jalan lahir. Kata midwife saat ante-natal class: “Imagine like you push a very big and hard poo.”

– Saat teriak menahan sakit, jangan menggunakan pitch tinggi, sebaliknya pakai suara dalam dan diarahkan ke perut. Menurut midwife, ini membantu membuka jalan lahir dan mempercepat keluarnya bayi. Kalau teriakan kita memakai nada tinggi malah akan membuat badan tegang, begitu juga dengan jalan lahir, sehingga proses keluarnya bayi juga jadi melambat. Saran ini sangat berguna dan berfaedah sekali buat aku.


Perjalanan ASI (1) Cobaan Itu Bernama Menyusui

Saya anak keempat, bontot nya ibu, dan sedari lahir, saya langsung diberi minum susu formula. Kata ibu, ASI nya sudah tidak keluar saat saya lahir. Dihabiskan kakak2 saya, begitu kata ibu sambil bercanda. Padahal saya yakin faktor psikologis ibu lah penyebabnya.
Saya tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Sejak berumur lima tahun saya dipisahkan dari ibu. Dan saat memikirkannya kembali ketika dewasa, di samping perceraian orangtua yang menjauhkan saya secara fisik dan emosi dengan ibu, saya percaya ASI sedikit banyak juga ikut andil dalam sukarnya saya merasa dekat dengan ibu. Tentu saja ini bukan generalisasi, ini hanya pengamatan saya terhadap permasalahan pribadi saya. Bayi yang menyusu formula tapi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat pasti beda lagi ceritanya.

Alhamdulillah sekarang hubungan saya dengan ibu sudah jauh lebih baik, tapi dulu saat remaja sampai paling tidak tahun2 pertama pernikahan, saya masih struggled. Tidak terhitung berapa sering saya merasa gagal menjadi anak perempuan yang “normal” karena tidak punya hubungan yang dekat dengan ibu, tidak seperti teman2 perempuan saya yang lain. Mungkin itu juga yang menunda Arung Segara Serena untuk segera datang dalam hidup saya. Karena ada emosi yang belum selesai dengan ibu. Karena sedikit sekali kesempatan saya melihat bagaimana peran ibu, harus bagaimana menjadi ibu. Karena saya tidak tahu caranya jadi ibu. Karena itulah sejak sebelum hamil saya sudah bertekad akan mengasikan anak saya,  selain karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, juga sebagai salah satu upaya untuk membangun hubungan yang baik dengannya.

Lalu lahirlah Neina. Dan ternyata perjalanan memberi ASI bisa sangat menguras emosi dan kewarasan haha…

Alhamdulillah rumah sakit disini (baik umum maupun swasta) sangat proASI dan meng-encourage IMD. Begitu lahir kami langsung skin-to-skin yang berjalan dengan baik alhamdulillah. Neina sangat tenang, bahkan terlalu tenang sampai perlu dibantu untuk mendekati susu dan meminumnya, jadi proses IMD bisa dibilang tidak sepenuhnya berhasil.

Dan ternyata, karena itu memang hari pertamanya di dunia dan dia tidak punya pengalaman apa2 sebelumnya, dia belum tahu cara menyusu yang benar. Neina tidak bisa menghisap air susu, apalagi hari2 pertama yang keluar memang hanya kolostrum yang jumlahnya hanya sedikit. Akhirnya saya pun memerasnya dan memberikannya melalui syringe. Awalnya semangat saya masih berkobar. Saat hamil saya ikut kelas laktasi dan dengan jumawanya merasa akan bisa memberikan ASI dengan berlenggang kangkung. Hahah… Mereka membuat seolah proses menyusui tampak mudah, saya tidak tahu jika pada kenyataannya akan banyak dramanya. Seperti misalkan, ternyata Neina termasuk bayi yang gampang lapar, yang tiap jam bangun menangis dan hanya diam jika diberi susu. Maka kegiatan saya hari2 pertama hanya berkutat pada menyusui, memeras susu yang masih sedikit produksinya dan kejar-kejaran dengan jam tidur Neina yang masih kacau–sebentar2 bangun. Stressful. Ditambah lagi kurang tidur, badan serasa berat dan kurang gravitasi secara bersamaan. Bayangan tentang romantisme ibu menyusui dengan background musik sentimentil sudah musnah sirna di hari2 pertama. Memberi ASI bukan perkara mudah for sure. Terpujilah pejuang2 ASI di seluruh dunia!

Selain memeras dan memompa, suster di RS tetap menyarankan saya untuk belajar menyusui Neina secara langsung. Dan karena Neina masih belum bener latching nya, menyusui menjadi kegiatan yang sangat menyakitkan! Dia seolah seperti punya gusi keras dengan gigi yang sudah hampir keluar. Setiap tiba waktunya menyusui, saya selalu ketakutan bakal merasa kesakitan. Saya pernah baca jika kunci menyusui harus rileks dan bahagia, tapi bagaimana bisa rileks kalau tiap menyusui rasanya daging seperti dicacah-cacah? Yang membuat saya tabah hanyalah melihat muka Neina yang menyusu seperti orang kehausan sehabis lari sprinter. Ga tega huhu. Tapi ya tetap, tiap menyusui saya meringis-ringis hampir menangis sembari berharap, seperti kata ibu, nanti lama-lama terbiasa dan sakitnya akan hilang. Saya hanya bisa bergumam pilu dalam hati, “KAPAN ya Allah?” Huhuhuhuu

Untungnya ada bantuan dari Laktasi konselor RS yang mendampingi malam-malam berat saya saat itu. Meskipun masih sakit, tapi beban lebih ringan karena ada dukungan mental.

Serena 2 weeks old

 

Sekarang umur Neina 2,5 bulan dan setelah terseok, tersandung, terjatuh, jungkir balik, kayang, koprol depan belakang, alhamdulillah proses menyusui sudah mulai settle down. Neina, meski belum jago, tapi sudah mulai bisa menyusu sehingga rasa sakit mulai tolerable. Alhamdulillah. Betul kata orang2, awalnya berat, tapi ga akan lama. Semakin hari akan semakin mudah!

Bersambung (insya Allah 😄)


Love in Silence

Ngeliatin Neina tidur remind me something beautiful it puts an ease and peace in my heart. “Cinta Allah pada manusia melebihi cinta ibu pada anaknya.” 

Now when I know how it feels to be so much in love, ya Allah ya Allah terima kasih sudah mau mencintai saya banyak2 T_T


What Every Parent Needs to Know

Baru baca beberapa halaman awal tapi it hit me so hard I know why I’ve been weird all my life.