Safura


Perjalanan ASI (1) Cobaan Itu Bernama Menyusui

Saya anak keempat, bontot nya ibu, dan sedari lahir, saya langsung diberi minum susu formula. Kata ibu, ASI nya sudah tidak keluar saat saya lahir. Dihabiskan kakak2 saya, begitu kata ibu sambil bercanda. Padahal saya yakin faktor psikologis ibu lah penyebabnya.
Saya tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Sejak berumur lima tahun saya dipisahkan dari ibu. Dan saat memikirkannya kembali ketika dewasa, di samping perceraian orangtua yang menjauhkan saya secara fisik dan emosi dengan ibu, saya percaya ASI sedikit banyak juga ikut andil dalam sukarnya saya merasa dekat dengan ibu. Tentu saja ini bukan generalisasi, ini hanya pengamatan saya terhadap permasalahan pribadi saya. Bayi yang menyusu formula tapi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat pasti beda lagi ceritanya.

Alhamdulillah sekarang hubungan saya dengan ibu sudah jauh lebih baik, tapi dulu saat remaja sampai paling tidak tahun2 pertama pernikahan, saya masih struggled. Tidak terhitung berapa sering saya merasa gagal menjadi anak perempuan yang “normal” karena tidak punya hubungan yang dekat dengan ibu, tidak seperti teman2 perempuan saya yang lain. Mungkin itu juga yang menunda Arung Segara Serena untuk segera datang dalam hidup saya. Karena ada emosi yang belum selesai dengan ibu. Karena sedikit sekali kesempatan saya melihat bagaimana peran ibu, harus bagaimana menjadi ibu. Karena saya tidak tahu caranya jadi ibu. Karena itulah sejak sebelum hamil saya sudah bertekad akan mengasikan anak saya,  selain karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, juga sebagai salah satu upaya untuk membangun hubungan yang baik dengannya.

Lalu lahirlah Neina. Dan ternyata perjalanan memberi ASI bisa sangat menguras emosi dan kewarasan haha…

Alhamdulillah rumah sakit disini (baik umum maupun swasta) sangat proASI dan meng-encourage IMD. Begitu lahir kami langsung skin-to-skin yang berjalan dengan baik alhamdulillah. Neina sangat tenang, bahkan terlalu tenang sampai perlu dibantu untuk mendekati susu dan meminumnya, jadi proses IMD bisa dibilang tidak sepenuhnya berhasil.

Dan ternyata, karena itu memang hari pertamanya di dunia dan dia tidak punya pengalaman apa2 sebelumnya, dia belum tahu cara menyusu yang benar. Neina tidak bisa menghisap air susu, apalagi hari2 pertama yang keluar memang hanya kolostrum yang jumlahnya hanya sedikit. Akhirnya saya pun memerasnya dan memberikannya melalui syringe. Awalnya semangat saya masih berkobar. Saat hamil saya ikut kelas laktasi dan dengan jumawanya merasa akan bisa memberikan ASI dengan berlenggang kangkung. Hahah… Mereka membuat seolah proses menyusui tampak mudah, saya tidak tahu jika pada kenyataannya akan banyak dramanya. Seperti misalkan, ternyata Neina termasuk bayi yang gampang lapar, yang tiap jam bangun menangis dan hanya diam jika diberi susu. Maka kegiatan saya hari2 pertama hanya berkutat pada menyusui, memeras susu yang masih sedikit produksinya dan kejar-kejaran dengan jam tidur Neina yang masih kacau–sebentar2 bangun. Stressful. Ditambah lagi kurang tidur, badan serasa berat dan kurang gravitasi secara bersamaan. Bayangan tentang romantisme ibu menyusui dengan background musik sentimentil sudah musnah sirna di hari2 pertama. Memberi ASI bukan perkara mudah for sure. Terpujilah pejuang2 ASI di seluruh dunia!

Selain memeras dan memompa, suster di RS tetap menyarankan saya untuk belajar menyusui Neina secara langsung. Dan karena Neina masih belum bener latching nya, menyusui menjadi kegiatan yang sangat menyakitkan! Dia seolah seperti punya gusi keras dengan gigi yang sudah hampir keluar. Setiap tiba waktunya menyusui, saya selalu ketakutan bakal merasa kesakitan. Saya pernah baca jika kunci menyusui harus rileks dan bahagia, tapi bagaimana bisa rileks kalau tiap menyusui rasanya daging seperti dicacah-cacah? Yang membuat saya tabah hanyalah melihat muka Neina yang menyusu seperti orang kehausan sehabis lari sprinter. Ga tega huhu. Tapi ya tetap, tiap menyusui saya meringis-ringis hampir menangis sembari berharap, seperti kata ibu, nanti lama-lama terbiasa dan sakitnya akan hilang. Saya hanya bisa bergumam pilu dalam hati, “KAPAN ya Allah?” Huhuhuhuu

Untungnya ada bantuan dari Laktasi konselor RS yang mendampingi malam-malam berat saya saat itu. Meskipun masih sakit, tapi beban lebih ringan karena ada dukungan mental.

Serena 2 weeks old

 

Sekarang umur Neina 2,5 bulan dan setelah terseok, tersandung, terjatuh, jungkir balik, kayang, koprol depan belakang, alhamdulillah proses menyusui sudah mulai settle down. Neina, meski belum jago, tapi sudah mulai bisa menyusu sehingga rasa sakit mulai tolerable. Alhamdulillah.

Bersambung (insya Allah 😄)


Love in Silence

Ngeliatin Neina tidur remind me something beautiful it puts an ease and peace in my heart. “Cinta Allah pada manusia melebihi cinta ibu pada anaknya.” 

Now when I know how it feels to be so much in love, ya Allah ya Allah terima kasih sudah mau mencintai saya banyak2 T_T


Selapan

Setelah anakku lahir, empat puluh hari kemudian, aku.

Kemarin Selapannya Neyna. Hari ini baca What Every Parent Needs to Know, buku yg dibeli abang (tapi nyuruh aku yg baca -_-). 


hari raya 2017

 

lebaran pertama dengan serena. Alhamdulillah.

rumah masih berantakan, tapi sudah lumayan. si abang doing such a great job, meskipun masih kalah sama mbak sutik hihi. kami bertiga sudah ada tugasnya masing2. ibu bagian konsumsi, Alhamdulillah ada ibu yang masak jadi bisa makan “makanan rumah” terus. aku bagian supply konsumsinya serena–dan akhirnya tahu kenapa ada istilah PEJUANG asi. Salut buat ibu2 yang ngasiin anaknya karena sungguh perjuangannya melelahkan. huhuhuhu.  abang bagian logistik, dan bebersih, dan ganti popok serena (ini bagian aku juga), dan shift malam (akuuu punnn), dan mandiin serena (ini aku masih magang, masih takut2), dan seksi sibuk lain2. kadang2 aku tantrum karena ngerasa abang gak ngerti “penderitaan” ibu asi dan maunya yang neko2 minta imbalan wkwkwk (dalam alquran kan kalo anaknya disusukan ke orang lain kitanya sebagai orangtua ngasih imbalan yang patut, mosok ke istri sendiri gak ngasih hihi tapi sebenernya penyebabnya gara2 temen abang ada yg nanya, “kamu kasih apa buat rika (hadiah melahirkan)? tas branded?” jadi aja kaaan…pengen…meskipun si abang tampaknya cuek aja ga ada tanda2 menyiapkan hadiah apa2 huhuhu). tapi kadang sadar juga kalo abang juga punya deritanya sendiri dengan tugas2nya tapi gak pernah ada keluhan barang sekata pun. dan ga minta hadiah apapun. Tapi biasanya sekali pengen sesuatu bisa menguras tabungan -_- (tabungan yang tak seberapa ini).

tadinya udah beli buntut (baru kali ini beli) dan abang dah mancing2 ibu nanya bumbu sop buntut apa aja bu? wkwk modus. abang bilang pengen ada makanan spesial waktu lebaran. kalo opor kan bisa makan di rumah mbak lisna, tapi masa pulang ke rumah ga ada makanan istimewa, biar berasa lebarannya gituh. akhirnya ya itu tadi, dua hari sebelum lebaran abang beli buntut dan mancing2 ibu mertuanya supaya dimasakin sop buntut. tapi jadinya malah makan pecel. yang tinggal nyeduh karena pecelnya pecel instan. wkwkkk. pulang dari rumah mbak lisna dah kesiangan, manalah sempat masak sop buntut. tapi gantinya ini hari (H+1) kita makan sop nya 🙂

shalat id di Townsville mulai setengah 8. kita berangkat jam 7.23. gara-garanya setengah tujuh masih remang-remang macam jam 5 kurang seperempat waktu jember (karena winter). dan serena baru minum susu, dan mamaknya masih jetlag habis begadang, dan utinya masih bikin nasi goreng. tapi Alhamdulillah nyampe masjid pas udah tahiyyat akhir. wkwk. lumayan masih dapat shalat id nya. tapi cuma abang sih yang shalat. aku enggak, nunggu di luar sama serena. ibu masuk masjid tapi telat karena belakangan.

sekian dulu wahai myblog. kapan2 lagi nulisnya, tentang lain2, termasuk serena yang dipanggil neyna. yang namanya sudah ada semenjak 4 tahun sebelum kelahiran ianya.

 


Mbak Sutik

Dear art teladan yang tiap lebaran ga mau pulkam, 

Mbak Sutiiik, Mbaaak…kau ada dimana sekarang, Mbaaakkkk??  Pegel linu ini merindukanmu 😭 Sini Mbaakkk…balio Mbaaakkk 🌪

Kenapa kau harus menikah dengan Pak Mad yang mengekang karir cemerlangmu saat sedang berada di puncak kegemilangannya? 

Aku kehilangan sosokmu yang selalu setia menyambutku dengan teh manis panas yang kau sajikan dengan gula nira yang kau sadap sendiri dari kebun Oma di Andalusia dengan tingkat kemanisan yang presisi, sehingga kadar gula darahku selalu stabil dan membuat dokter keluarga kita yang merawatku semenjak aku masih di alam ruh, tersenyum haru padaku.

Kini, setiap pulang dari olahraga singkatku jalan kaki dari Tanggul melalui pantai Bande Alit kemudian berenang bolak-balik ke pulau Bawean mengarungi ombak pantai Selatan, Timur, dan Utara, untuk kemudian kembali lagi ke Jember Kidul, aku terpukul saat menyadari dirimu sudah tak ada lagi di rumah. Aku tersentak, menjadi labil, dan emosionil. Aku tak lagi bergairah saat diundang mengikuti bakti sosial di Mogadishu sana. Padahal kedermawananku cukup tersohor semenjak aku dikenal aktif mendonasikan kembalian di bawah lima puluh rupiah jika berbelanja jajanan kelas ningrat kami, biskuit malkis rasa abon di minimarket terdekat, terhitung sejak dua hari yang lalu.

Namun kumohon jangan kau salah faham. Aku ikut bahagia akhirnya kau bertemu jodohmu yang ternyata jaraknya benar2 hanya lima langkah dari rumah, membuat Leni Nurhayati bangga karena judul lagu ciptaannya menjadi kenyataan di dunia fana ini. Aku hanya menyesalkan karirmu terpaksa berakhir saat kami sekeluarga sedang sayang2nya. Please mbak, be a happy bride…always, supaya pengorbanan kami tak sia2 laksana reruntuhan tepung panir roti goreng yg mengotori dasar wajan sederhana milik Oma yang berhiaskan berlian mungil seberat 703,5 karat. #dahgituaja #PengenCurhat #MalahKebawa #FitropInfluence #SusaaahTernyataHahaha