Safura


Tuhan Dimana?


Dear Serena,

Seperti halnya anak-anak seusiamu yang banyak bertanya, kamu juga penasaran tentang Tuhan. Itu dimulai sejak kamu berumur tiga tahun. Kalau tidak salah ingat, pertanyaan pertamamu tentang Tuhan adalah, Allah ada dimana. Mama jawab ada di ‘arsy, di langit yang tinggi. Menurut sebagian referensi yang Mama baca, itu jawaban yang mereka rekomendasikan untuk pertanyaanmu, meski ada juga yang menyalahkannya dan memberi alternatif jawaban lain. Terus terang aku tak tahu mana yang lebih tepat.

Ternyata Nduk, mengenalkanmu kepada Tuhan memang tidak bisa hanya melalui kata2. Dalam pandanganmu yang masih balita, Tuhan harus riil wujudnya; bisa didengar, dilihat, dirasakan. Dan harus terbukti Baik, sebagaimana yang sering kami propagandakan.

Kurasa tugas berat itu yang sedang kami jalani sekarang, menjadi kepanjangan Rahman dan Rahim-nya Tuhan. Karena itulah, Serena, sebenarnya ini Mama sedang meminta maaf padamu. Maaf jika kamu terkadang melihatku galak, itu bukan cerminan Tuhan, itu Mama yang sedang capek tapi tidak bisa mengontrol emosi di depanmu. Jika kamu mendengar nada bicaraku meninggi, itu aku yang terkadang frustrasi pada diriku sendiri, bukan padamu.

Maafkan ya, Nak, Mama masih jatuh bangun berusaha menjadi ibu yang baik untukmu. I love you so so so very much!

Dan untuk semua pertanyaanmu, aku berharap Allah membimbingku pada jawaban2 yang membawamu lebih dekat kepadaNya. Amin.


Bapak

Pertama kalinya mengucapkan Hari Ayah, 5 Sept lalu 💔

Hari ini tepat 30 hari Bapak meninggalkan kami semua. Salah satu speaker dalam podcast @edmylett pernah bilang, Grief adalah emosi yang paling “sabar” berada di sekitar kita. Kamu pikir kamu sudah selesai berkabung. Nyatanya, nengok dikit, dia masih ada disitu. Tidur sudah nyenyak, saat bangun, dia ada lagi. Entah sampai kapan, seperti ga akan selesai. 

Waktu kehilangan Arung Segara dulu, rasanya langit runtuh dan duniaku gelap seperti gak punya masa depan. Tapi setelah beberapa lama, ada juga momen dimana akhirnya aku bisa bersyukur dengan kehadiran mereka.

Tapi saat kehilangan bapak…

Rasanya sulit bernafas karena banyak sekali emosi yang datang sekaligus, terutama rasa penyesalan. Tentang semua yang tidak sempat aku perbuat untuknya. Dan aku merasa seperti tidak akan ada momen dimana aku bisa bersyukur tentang keadaan ini. 

Untungnya ada keluarga dan teman2 dekat yang menguatkan. Semuanya berkata bahwa doa-lah yang paling penting untuk dilakukan saat ini. Tapi saking banyaknya penyesalan, sudah berdoa pun masih membuatku merasa sesak. Sampai seorang teman yang baik bilang, “Jangan khawatir, Rika, kamu masih bisa melanjutkan baktimu buat bapak.” 

Kata2nya mengingatkanku pada salah satu episode Reply 1988 saat Deok Sun bilang, keberadaan Tuhan di dunia ini pastilah agar orangtua bisa berdoa untuk anak2 yang mereka cintai.

Ternyata berlaku sebaliknya. Bukan hanya untuk orangtua, Tuhan juga ada untuk memberi jalan anak2 agar berdoa dan tetap berbakti untuk orangtuanya. 

If I was a terrible daughter, I still have a chance to be a good one.

Momen syukur yang kukira tak pernah ada, ternyata sampai juga aku disana. Alhamdulillah.. 

Maaf nggih, Pak, ternyata aku belum mengenal Bapak dengan baik selama ini, tapi semoga penduduk langit mengenal kebesaran hati dan kedermawanan Bapak. 

Allah juga memuliakan Bapak dengan kebaikan hati Ustad Irwan, “bapak” anak yatim di daerah Gebang, Jember, yang bersama jamaahnya berinisiatif mendoakan Bapak, istiqomah setiap malam hingga malam ke-30 tadi. MaasyaAllah…setiap malam, Pak. Bukan hanya malam ke-3 dan ke-7 saja sebagaimana lazimnya di masyarakat. Tapi semenjak malam ke-2 sampai ke-30, tidak pernah absen mendoakan Bapak. Semoga Allah menerima doa beliau semua dan membalas dengan kebaikan yang banyak berlimpah dunia akhirat aamiin.

To the first man of my life, the most courageous and generous man I’ve ever known 🤍 It’s a heart wrenching to never had a gut to say I love you when you were still here…but I know you know, I always do. 


Bung Tomo

Catatan 2014

Saya mengunjungi Tugu Pahlawan di Surabaya pertama kali sekitar tahun 2007/2008, dalam rangka liputan Si Bolang. Kalau tidak salah itu liputan kedua saya. Masih oon-oonnya. Beruntung punya produser yang keren dan baik hati! Mbak Amatoel Rayyani, namanya. Keberuntungan kedua, para Bolang yang saya bawa berasal dari sebuah desa di pedalaman Kabupaten Jember, kampung saya. Sedikit banyak hal itu membuat saya merasa secure. 

Tentang Tugu Pahlawan ini, saya sangat terkesan. Meskipun jujur, sebenarnya hanya satu hal saja yang tertanam kuat dalam ingatan dan hati saya tentang Tugu Pahlawan, yaitu (rekaman) suara Bung Tomo. Edan itu suara. Seperti bernyawa! Merinding saya mendengarnya. Padahal itu hanya rekaman. Dan antara saya saat itu dengan peristiwa Mallaby terpaut jarak waktu lebih dari enam puluh tahun lamanya. Tak terbayang rasanya jika mendengarkannya di tahun 1945. Pantas jika rakyat begitu terbakar semangatnya. Kita semua tahu bahwa peristiwa 10 November merupakan perang bersejarah, dimana tentara Inggris yang terkenal hebat itu kewalahan menghadapi tentara rakyat kita.

Kesan itu membuat saya ingin mengunjungi lagi Tugu Pahlawan saat saya berkunjung ke Surabaya bersama suami. Sebagaimana enam tahun yang lalu, suara Bung Tomo masih meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Hal lain yang membuat saya happy, kali ini saya punya waktu berlama-lama untuk melihat-lihat setiap sudut museum. Ternyata ada sebuah etalase yang menyimpan beberapa barang peninggalan Bung Tomo. Melonjak hati saya saat melihat salah satunya adalah buku harian Bung Tomo! Duh sumpah pengen banget baca! Sayang sekali kondisi buku hariannya sudah terkoyak masa T_T Banyak sekali tulisan di lembaran usang itu yang sudah pudar T_T  Ingin rasanya waktu itu mengadu pada Bu Risma, meminta Pemkot Surabaya menyelamatkan buku harian bersejarah tersebut. 

Lagi cari-cari nih, adakah penerbit yang pernah menerbitkan buku harian Bung Tomo ini? Kalau ada yang punya infonya, please beri tahu saya ya.

Terlepas dari kontroversi sosok Bung Tomo yang ramai dibicarakan di media sosial belakangan ini, saya tetap mengagumi beliau sebagai orator yang ulung.

Mungkinkah suatu saat nanti Pidato Bung Tomo ini bisa diperdengarkan di sekolah-sekolah dan instansi pemerintahan setiap tanggal 10 November? Colek Mas Nadiem 🙂


After Shubuh

Tidur sehabis subuh memang enak!

Tapi ternyata, tetap terjaga setelah subuh lebih nikmat lagi!

Perjuangannya memang berat sih… apalagi untuk putri tidur seperti saya..

Tapi sense yang saya rasakan setelah berhasil bertahan untuk tetap terjaga sangatlah menyenangkan.

Seperti kata pepatah arab;

Naumul fajr, yaumul faqr

Yang artinya kira-kira: siapa yg tidur waktu fajar, harinya akan miskin.

A wise man said:

He that is busy is tempted by but one devil; he that is idle, by a legion.

Jadi…  Jangan tidur sesudah subuh ya! Lakukan aktivitas yg menggerakan tubuh!

—dan berbicara memang selalu lebih mudah ketimbang melakukannya.

Catatan lama 2009.

11 tahun kemudian, 1 januari 2021.

Alhamdulillah sekarang lebih sering dan lebih menikmati tetap terjaga setelah Subuh. Bukan karena sudah rajin, tapi mamak ga mau kehilangan Me Time! Hahahah. Apapun alasannya, yang terpenting tetap terjaga memang lebih banyak manfaatnya. Jadi bisa beberes, ngelamun, kadang olahraga, ngelukis, menulis, dll. Dengan demikian mudah-mudahan pasukan iblis yang mengikutiku sudah berkurang amin xD


Candu

Catatan lama, Desember 2016

Sudah setahun lebih saya men-deactivates akun Facebook saya. Sebabnya karena waktu itu FB sudah seperti candu, saya menghabiskan banyak sekali waktu untuk mengecek FB. Apalagi saya sendirian di rumah sejak Subuh sampai menjelang Isya, dan tidak banyak yang bisa dilakukan di desa kecil macam Cloncurry ini. Akhirnya meng-kaji FB dan internet jadi rutinitas sehari-hari. Memang saya tidak rajin membuat status atau komen, tapi saya suka browsing kepo sana-sini haha. Dari satu tautan ke tautan lain. Dan tahu-tahu sudah jam berapalah. Tahu-tahu sudah terlalu panas untuk keluar belanja. Dan yang paling saya rasakan mengganggu, jadi suka sebel sama orang-orang yang statusnya pada sotoy hahaha padahal saya juga. Suka sebel juga kalau ada yang pamer sambil sok merendah hahaha–sebenernya iri. Suka malas juga sama yang merasa paling benar dan nyinyir terhadap yang lain. Suka pengen kalo lihat postingan bayi. Ah pokoknya jadi penyakitan hati gara-gara FB. Kayaknya buat orang yang belum bisa menata hati seperti saya, FB jadi banyakan mudhorot daripada faedahnya. Akhirnya saya deactivate, uninstall dari hape, dan menahan diri untuk tidak membuka2 FB lagi.


Tapi setelah itu bikin Path. Hahha sama aja boong. Tapi di Path masih lebih fun sih…gak banyak potensi untuk iri dan dengki. Tapi tetep aja suka bikin candu, suka ga enak gitu kalau ga liat sehari aja. Duh. Akhirnya jauh-jauh juga dari Path.

Lalu beralih main Instagram. Hihi. Tapi cuma buat happy-happy liat seleb dan orang-orang terkenal, liat gambar-gambar lucu, bagus, dan inspiring. Karena nawaitunya memang cuma liat-liat foto orang, saya hampir gak pernah upload foto sendiri, cuma ada beberapa yang saya upload waktu pertama kali bikin akun IG gara-gara pengen coba filter ala-ala biar seperti orang-orang. Terus hampir gak pernah juga nge add orang-orang yang saya kenal biar emotion-free, hanya dengan beberapa saudara dan teman yang saya kenal baik saja.

Menurut saya IG mendingan, tidak seberbahaya FB.  Meskipun demikian, kadang membuat melantur kemana-mana kalau sudah exploring. Apalagi kalau akun Lambe Turah pas dibuka, wahhh jadi liar buka foto dan manjat komen dari atas biar tau ceritanya. Hhhh. Kenapa susah sekali untuk tidak menggosip ya. Dan penyakit hati pun tetap mengintil kemana-mana.
Tapi IG masih menyenangkan, salah satunya karena ada Kirana hehe.
Dan beberapa hari belakangan ini, karena kepo dengan kondisi tanah air, saya kepo FB lagi. Pakai akun suami. Kepo sana-sini lagi. Dan subhanallah…orang-orang kok kayaknya jadi lebih buas ya…
Akhirnya saya jauh-jauh lagi dari meng-kepo FB karena hati jadi rusuh lagi. Jadi ikut merasa paling benar dan menyalahkan orang lain juga.

Sudahlah…memang paling bener nonton Upin Ipin yang konfliknya paling-paling si Mail yang memalsukan tanda tangan Pak Mail.

23/10/2020

Empat tahun kemudian, saya masih puasa FB. Path sudah almarhum. Sedangkan IG, saya malah punya beberapa akun di platform ini. Hehe. Ada akun pribadi, akun jualan, akun buat naruh foto dan video Neina supaya memori HP tidak sesak, dan akun yang isinya para motivator agar saya tidak malas-malasan terus.

Belakangan saya lumayan aktif di akun pribadi IG saya. Dari yang tadinya social-anxiety, sekarang mulai memakainya lagi untuk berinteraksi dengan teman-teman lama dan baru. Juga mengikuti perkembangan K-drama di akun @ahjussi_lovers yang adminnya rada gesrek bikin ngikik baca caption2nya😁 Juga mengikuti akun-akun watercolor artist. Hehe…bulan lalu saya belajar melukis menggunakan cat air dan jatuh cinta dengan prosesnya. Dan sekarang dengan pedenya mengisi akun pribadi saya dengan #100daysofpractice. Hahah. Semoga melalui Instagram-pressure, saya bisa konsisten berlatih ya Allah. Aamiin.