Safura



Satpam = Aman ?

Dear Bapak Presiden yang kami sayangi, ijinkan saya menulis lagi untuk Bapak. Sejak saya bertempat tinggal di luar Indonesia, tiba-tiba ada banyak sekali yang ingin saya ceritakan pada Bapak. Seperti kali ini.

Seperti biasa, sekali dalam sepekan saya mengajar teman-teman BMI yang menghabiskan waktu liburannya di masjid Tsim Sha Tsui. Bapak sudah tahu kan, kalau dalam satu minggu, teman-teman mendapat jatah libur satu hari. Tidak selalu hari Minggu, Pak, ada juga yang mendapat libur di hari biasa. Dan yang mengharukan, mereka tidak menghabiskan waktu liburannya dengan bersenang-senang seperti jalan-jalan atau berbelanja, atau nongkrong di taman Victoria. Mereka mengisi waktu liburnya dengan berkumpul di masjid. Mengaji, Pak.

Sekitar pukul 2 atau 3 siang setelah shalat Dzuhur, biasanya akan ada ustadz yang mengisi materi. Kalau suatu saat nanti Bapak berkunjung ke Hong Kong, pasti akan sangat menyenangkan jika Bapak dapat menjadi salah satu narasumber majelis taklim ini. Bapak tidak usah khawatir harinya, karena dari Senin sampai Minggu, selalu ada teman-teman yang membentuk Majelis Taklim untuk belajar bersama. Tinggal Bapak sesuaikan dengan jadwal Bapak. Yah…sukur-sukur kalau bisa seminggu penuh, Pak. Supaya bisa berjumpa dengan semua BMI yang ada di Hong Kong.

Sedangkan saya, disini hanya sebagai penggembira saja Pak. Sebelum shalat Dzuhur, saya mengisi waktu luang teman-teman dengan mengajar Bahasa Inggris atau komputer. Materinya sederhana saja, dari yang paling dasar. Teman-teman disini sangat senang sekali belajar. Seandainya Bapak bisa melihat binar mata Ibu Kom (usia 50an) yang sangat bersemangat ingin belajar komputer, Bapak pasti ingin mengerahkan semua ilmu yang Bapak punya untuk membuat beliau cepat bisa. Bapak tahu tidak, Ibu Kom ingin belajar komputer supaya jika pulang nanti, beliau bisa membuat neraca dagang dengan program Excel. Iya Pak, beliau sedang mulai merintis usaha kelapa sawitnya. Modalnya, tentu saja hasil dari belasan tahun beliau kerja keras di Hong Kong ini.

Bapak yang baik, saya ingin menceritakan pada Bapak pengalaman saya pekan kemarin.

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, hampir setiap pekannya selalu ada yang mengisi materi agama. Pekan kemarin narasumbernya adalah seorang ustadz dari Jogja dan seorang vokalis grup nasyid dari Jakarta. Ustadznya ramah dan kocak, sehingga membuat suasana jadi ceria. Sedangkan mas penyanyi nasyid ini kebetulan juga putra salah satu mantan BMI yang sekarang aktif menangani advokasi para BMI yang tersandung masalah hukum di Hong Kong. Nanti kapan-kapan saya ceritakan tentang masalah-masalah yang dialami oleh teman-teman disini ya, Pak. Kembali lagi pada narasumber tadi, sang penyanyi nasyid usianya masih muda dan tampan. Saya sempat memperhatikan banyak teman-teman BMI yang masih single, menatap kagum padanya. Untung saya sudah tidak single, Pak. Hehe… Mas ini memang memperlakukan semua orang yang ada disana dengan perlakuan yang santun dan sangat memuliakan mereka. Para ustadz yang menjadi narasumber juga memperlakukan kami dengan sangat baik, tapi rupanya penyanyi nasyid ini lebih sopan lagi. Barangkali karena pernah merasakan pahit getir kehidupan ibundanya dahulu. Saya jadi terharu. Perlakuan santun seperti itu jarang teman-teman dapatkan, Pak. Bahkan oleh sesama warga Indonesia sendiri—yang seringkali menganggap kedudukannya lebih terhormat daripada BMI.

Pak Presiden, saat itu ingatan saya langsung tertuju pada kejadian sekitar empat bulan yang lalu, ketika saya dan suami masih beberapa hari tinggal disini. Waktu itu saya merasakan bahwa penduduk lokal memandang rendah warga negara kita, Pak. Memang tidak semua, tapi rata-rata menggeneralisir bahwa warga negara kita yang berada di Hong Kong—terutama perempuan—pastilah berprofesi sebagai domestic helper. Jujur awalnya saya agak ‘surprised’ menerima perlakuan seperti itu. Saya pernah diusir dari depan apartemen karena dikira pembantu yang sedang mencari pekerjaan. Saat mencari informasi tentang apartemen (via telepon) pun, begitu mereka tahu saya orang Indonesia, tanpa tedeng aling-aling mereka langsung menyangka saya—maaf—pembantu.

Maka, ketika saya menelepon KJRI untuk meminta informasi tentang lapor-diri sebagai WNI yang baru pindah ke Hong Kong, wajar lah Pak kalau saya mengharapkan sambutan hangat dari saudara sebangsa. Kami tak punya kenalan disini, dan setelah beberapa kali mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari orang asing, saya ingin merasa diayomi layaknya anggota keluarga sendiri oleh perwakilan negara kita di KJRI. Saya rinduu sekali dengan Indonesia pada saat itu, Pak.

Namun rupanya perlakuan yang terjadi justru di luar dugaan. Saya menghubungi KJRI via telepon dan bayangan saya tentang sambutan ramah, kandas hanya dalam lima detik pertama. Sejak mengawali pembicaraan, saya sudah disambut dengan nada tinggi yang sama sekali tidak bersahabat. Setiap saya bertanya sesuatu, kalimat saya banyak dipotong dengan kasar. Saya shocked, Pak. Konjen macam apa ini jika terhadap warga negaranya sendiri saja bersikap seperti musuh?!? Saya juga dibentak karena banyak bertanya. Dan saat saya mengingatkan Tuan Terhormat di seberang telepon agar tidak membentak saya, saya justru dimaki dengan umpatan kasar. Tuan Yang Terhormat itu kemudian langsung membanting teleponnya. Oh!! Rupanya murka sekali lah dia, Pak. Tinggal saya yang masih memegang telepon dengan nafas tersengal karena kecewa, marah, sekaligus sedih berat.

Tahukah Bapak, Tuan Terhormat yang menerima telepon itu bertugas di bagian keamanan. Tapi demi Tuhan Pak, saat itu sedikitpun saya tidak merasa aman. Begitukah Pak, caranya negeri ini melindungi warganya yang berada di rantau?

Saya paham, bapak Satpam tersebut menganggap saya BMI. Maka jangan Bapak menyalahkan saya jika berpikiran bahwa begitulah rupanya cara kebanyakan aparat memperlakukan BMI.

Yah, Bapak betul, tidak semuanya begitu. Banyak juga yang baik, ternyata. Kabarnya Bapak Konjen yang menjabat sekarang bahkan mempersilahkan teman-teman BMI untuk menghubungi beliau kapan saja jika ada masalah. Beliau memberikan nomor hape dan alamat facebooknya untuk memudahkan pengaduan. Alhamdulillah…
Tapi terus terang ketika itu saya marah dan kesal sekali pada KJRI. Saya yang baru beberapa hari di Hong Kong dan menginginkan keramahan aparat negara, nyatanya malah dibentak-bentak. Tidak munafik Pak, saat itu sebenarnya saya ingin sekali menyombongkan diri bahwa suami saya bekerja di salah satu perusahaan prestisius di Hong Kong. Saya ingin tahu apakah suara Pak Satpam akan melunak? Saya khawatir tidak. Makanya tidak saya lakukan :) )) Tapi Pak…….pada dasarnya, mau jadi apapun kami ini tetap warga Negara Indonesia kan Pak? Baik saya ataupun teman-teman BMI, tetap berhak mendapat perlakuan yang baik. Iya kan, Pak?

Maka dari itulah Pak, saya terharu melihat perlakuan santun seorang penyanyi ibukota terhadap teman-teman BMI. Seandainya Satpam Konjen pun demikian baiknya melayani kami…pasti hati kami ini akan sangat hangat dibuatnya.

Mata saya basah sore itu. Saya refleks berdoa, semoga Allah berkenan memberi kami keturunan yang mempunyai perangai lembut dan santun terhadap semua orang, terutama orang-orang lemah. Aamiin… Doakan ya, Pak.

Jadi, kapan Bapak akan kesini dan berbincang-bincang dengan kami di Kowloon Park–sebuah taman di samping Masjid TST tempat kami belajar? Teman-teman pasti akan menyiapkan kopi atau teh hangat untuk Bapak. Jangan lupa ajak Ibu Anie juga. Kami tunggu ya Pak.


Comments

  1. taufiq says:

    salam kenal ibu…..trimakasih atas tulisannya. oh ya apakah peluang kerja bagi laki laki seperti saya ini ya. saya ingin coba merantau ke luar negeri. trims

    | Reply Posted 3 months, 2 weeks ago
    • safura says:

      Salam kenal juga Pak Taufiq, terima kasih sudah mampir. Untuk peluang kerja, mungkin Bapak bisa cari di jobsearch engine yang sesuai dengan bidang Bapak…

      | Reply Posted 2 months, 1 week ago
  2. Kunjungan balik Bu. Terima kasih sudah mampir di blog saya. Salam kenal.
    Tulisan Ibu, bagus dan berkelas. Keep inspiring Mam…

    | Reply Posted 3 months, 2 weeks ago
    • safura says:

      Terima kasih Pak..

      | Reply Posted 2 months, 1 week ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.