Hai, apa kabar?
Pagi ini tak sengaja melihat diary hijau kecil itu di antara buku-buku dan merindu.
Saya ingat, setahun lalu mereka membawanya pada saya dalam kondisi masih di dalam tas kresek berukuran tanggung warna putih. Di dalamnya masih ada struk pembelian, dan satu batang snack biscuit cokelat seperti yang biasa mereka beli.
“Ibu, ini Bu! Ini buat Ibu!” Aldi, Engkur, dan Dede saling berebut bicara paling dulu. Ada Sudira juga sepertinya. Saya agak lupa.
Mereka baru turun dari sepeda yang masih besarnya dua kali badan mereka yang kurus karena gibur (gizi buruk). Dan menghampiri saya sambil setengah berlari.
Saya pura-pura kaget.
“Apa ini?”
“Buat Ibu, Bu. Kenang-kenangan dari kita, Bu,” Aldi yang merasa paling tua diantara dua sepupunya angkat bicara. Engkur, Dede, dan teman-temannya mengerubungi kami dengan pandangan yang tidak mungkin saya lupakan seumur hidup.
Saya terharu, dan ingin menangis. Uh, cengeng sekali saya ini. Untung masih bisa saya tahan.
Saya keluarkan buku diary kecil itu dari kereseknya dan memasang wajah paling senang yang saya bisa.
“Waaah…bagusnya! Makasih yaa…!”
Mereka menjawab iya dengan gembira.
“Kita semua patungan, Bu. Terus saya, Dede, sama Engkur yang beli,”si Aldi menjelaskan lagi tanpa diminta. Nada suaranya gugup-gugup senang. Bangga.
“Wah, nggak usah repot-repot lho…” saya berbasa-basi.
“Ih, enggak kok Buu..” jawab mereka masih sambil cengengesan.
“Dipake ya, Bu, bukunya!”
“Pasti dong! Kalau ini wafer siapa?” saya mengeluarkan wafer cokelat yang masih tertinggal di dalam kantong keresek.
“Itu buat Ibu juga!” wajah mereka tetap sumringah.
“Alhamdulillah. Makasih ya,” saya berusaha menyenangkan hati mereka dengan segera memakan wafer itu.
Kemudian saya minta mereka menuliskan nama-nama mereka di dalam buku mungil tersebut, sementara saya penasaran dengan struk pembeliannya. Ah, pasti mereka membelinya di toko stationary di perempatan Pondok Kacang. Saya baca, harganya sekitar 5000. Oh iya, masih ada receh juga dalam keresek tersebut, kembaliannya. Yang kata mereka buat saya juga ![]()
Terima kasih ya….padahal untuk uang saku saja mereka kekurangan, tapi masih rela patungan untuk menyenangkan orang lain.
Dalam banyak hal, sebenarnya merekalah guru dan saya muridnya. Murid yang keras kepala dan banyak lupa.
Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat. Bukunya Ibu bawa kemana-mana.
