Safura



ilmu abai

sudah lama saya merasa kalau “fokus” terlalu licin buat saya. selalu kesana-kemari, susah dipegang seperti belut.
dulu dosen saya, yang juga merupakan salah satu dosen favorit kami–kang Jalal kami biasa memanggil beliau–meminta maaf kalau apa yang dia terangkan sering lompat kesana-kemari, tidak berurutan. begitulah, kata beliau dengan nada bercanda, tanda-tanda orang pintar. pikirannya berlompatan, dan seringkali lebih cepat dari kecepatan mulutnya berbicara.

ih, Kang Jalal…..aku banget dong?? :) ))
walau saya juga ingin tergolong jadi orang pintar seperti Kang Jalal, tapi dengan rasa rela saya harus mengakui kalau lompatan pikiran yang diciri-cirikan beliau dengan yang saya alami ini berbeda jenisnya. bukan karena pintar. hehe… yang ini karena lack of focus

dari dulu saya ingin belajar fokus. susah sekali pikiran saya ini diajak fokus pada satu hal untuk waktu yang lama.
pernah, setelah melewati masa pemikiran yang panjang, yang itu pun sering tidak fokus, akhirnya saya sampai pada kesimpulan: kalau saya tidak bisa fokus, mungkin saya harus belajar mengabaikan.

alih-alih konsentrasi saya terpusat pada “harus fokus”, saya harus membiarkan pikiran saya mengabaikan hal-hal yang kurang penting. dengan begitu, mudah-mudahan saya tak sering-sering kepeleset saat harus fokus.

kenyataannya, ini hanya usaha untuk menggeser sudut pandang saja. ujung-ujungnya ya tetap harus stay focus juga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.