In waiting
“Lama juga ya. Udah setahun lebih kan?”
“Aku dulu begitu nikah, langsung hamil sih..”
Kalau komentar-komentar itu saya dengar setahun yang lalu, mungkin dalam hati saya akan timbul rasa marah, sedih, nelangsa, ingin mencabik-cabik si komentator. Hm, oke yang terakhir itu berlebihan. Setidaknya saya hanya ingin mencakar saja
Sebelum menikah, saya berharap bisa punya anak di usia muda. Dengan kata lain, begitu saya menikah saya ingin punya anak sesegera mungkin. Saya pun membeli beberapa buku yang berkaitan dengan pendidikan anak. Saya membeli buku yang berkaitan dengan cara menjadi orangtua yang baik. Meskipun jujur saya akui, hati saya sebenarnya masih bertanya-tanya juga, seperti apa rasanya punya anak? Repotkah? Siapkah saya? Dan akhirnya berujung pada jawaban yang saya perintahkan pada hati saya untuk menjawabnya: siap.
Lalu saya menikah. Alhamdulillah mendapatkan suami yang satu pemikiran tentang ide memiliki anak. Maka, satu bulan pertama pun kami lalui dengan harap-harap cemas. Ternyata harapan kami tak terkabul secepat itu. Gak papa, namanya juga baru… Saya menghibur hati. Tapi ternyata bulan-bulan berikutnya sama saja. Saya belum juga merasa mual, morning sick, ngidam, atau apapun lah yang menunjukkan tanda-tanda kalau saya hamil. Atau mungkin saya hamil badak ya? Jadi gak ngerasain tanda-tanda itu. Hehe…saya mulai terlalu jauh berharap. Dan harapan itu jadi menyakitkan jika ternyata seminggu kemudian menstruasi saya datang lagi. Uh!
Beberapa kali saya pernah mencoba memakai testpack, tapi selalu saya mengeluh, ya Allah, kapan garisnya jadi dua ya? Perasaan satu mulu… ![]()
Dan suami pun akan bilang, “Sing sabar…mungkin Allah mau ngasih kita anak yang pinter, yang istimewa, jadi kitanya musti mempersiapkan diri dulu.” Alhamdulillah suami saya sangat sabar.
Tapi saya tetap terganggu dan senewen dengan pertanyaan “Sudah isi belum?” dan pertanyaan senada lainnya.
Kalau penanya memang sekedar ingin tau sih ga masalah. Yang bikin kesel kalo si penanya ini sebenarnya sudah tau kabar saya, tapi mereka bertanya hanya untuk membandingkan nasib saya dengan “nasib baik”nya.
Penanya tipe ini biasanya memiliki gaya bertanya seolah-olah anak yang sedang dimilikinya itu bukan ketentuan dari Tuhan, tapi ada karena kehebatannya. Seperti sudah bekerja keras mengumpulkan uang dan akhirnya berhasil membeli sebuah mobil baru yang mewah, kemudian dengan bangga memamerkan hasil jerih payahnya itu. Astaghfirullah…kok saya jadi suudzon ya. Yang punya pengalaman sama dengan saya, pasti paham apa yang saya rasakan.
Alhamdulillah saya punya suami yang oke, yang pengertian dan sangat baik. Tadinya, karena pengaruh budaya patriarkis di negara ini, saya menganggap, karena kalau hamil memakai perut saya, maka ‘masalah’ belum hamil ini adalah masalah saya dan menjadi tanggungjawab saya sendiri. Tapi tanpa diminta, suami selalu menguatkan saya dan menempatkan dirinya di sebelah saya, menganggap ‘masalah’ ini sebagai ‘masalah’nya juga.
Maka segala puji untuk Tuhan, yang menyampaikan saya di titik ini. Titik dimana saya bisa melihat bahwa sesuatu yang saya sangka ‘masalah’ itu, sebenarnya adalah salah satu bentuk berkah dariNya.
Kalau dilihat dengan hukum sebab-akibat, maka saya berkesimpulan begini…
1. Proses kami dari taaruf (berkenalan secara pribadi) sampai menikah boleh dibilang relatif cepat, kurang lebih 6 bulan, dengan frekuensi pertemuan 3 bulan sekali karena memang jaraknya berjauhan.
Jadi bisa dibilang proses adaptasi yang sebenarnya baru dimulai setelah menikah.
Terus terang saya orang yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan atau orang yang baru. Apalagi ini statusnya suami. Pasti akan melibatkan penyesuaian emosi yang porsinya tidak sedikit.
Belakangan ini saya berandai-andai, jika saja………..Allah mengijinkan saya langsung hamil di awal pernikahan saya (seperti yang pernah saya dambakan sebelumnya), saya tidak dapat membayangkan beratnya proses adaptasi yang harus saya hadapi.
Belum matang adaptasi dengan suami, saya sudah harus beradaptasi dengan sesuatu yang baru dalam tubuh saya. Dengan perubahan hormonal dan emosional saya. Belum lagi kalau bayinya lahir, saya harus beradaptasi dengan dua manusia baru sekaligus. Dengan usia dan karakter yang pastinya akan sangat berbeda.
Thank God, Allah tidak berkenan merepotkan saya. Beliau memberi saya ruang untuk bisa belajar dulu mengenal pasangan saya sebaik-baiknya.
2. Dulu saya pernah punya keinginan untuk tidak pacaran. Pengennya sih nanti saja kalau sudah menikah, pacaran dengan suami sendiri. Meski masa muda saya (duile..) tidak semulus keinginan saya, alhamdulillah saya merasa Allah mengabulkan permintaan itu. Allah memberi kami waktu untuk berdua-duaan dulu a.k.a pacaran yang halal. suwit suwiitttt…….
3. Karena pekerjaan suami di luar pulau, maka kami masih tinggal berjauhan. Kata orang, kondisi saat hamil itu berat dan tidak mudah. Maka saya berhusnudzon bahwa Allah sangat sayang pada saya. Mungkin Beliau menganggap akan sulit bagi saya jika harus menghadapi kondisi itu sendirian. Maka, tentunya Allah yang paling tahu kapan waktu yang tepat bagi semua orang untuk sampai pada takdirnya masing-masing.
4. Saya masih belum bisa menerapkan pola hidup teratur. Maka sekarang ini saya menganggap Tuhan sedang mendidik saya agar bisa disiplin mengatur diri sendiri. Gimana mau mengatur anak kalo diri sendiri belum disiplin? Nah! Mangkanya poin yang satu ini memang butuh usaha dan kerja keras. Mudah-mudahan saya bisa melaluinya. Mengutip salah satu kata-kata Mario Teguh yang menginspirasi saya, (kira-kira bunyinya begini) di akhir usaha terbaik yang bisa dilakukan manusia, itulah awal dari campur tangan Tuhan.
Kalo pak ustadz mungkin akan bilang: ikhtiar dulu baru tawakal!
Yang pasti, sekarang saya bisa melewati keadaan ini dengan lebih santai. Saya dan suami bahkan sering membuatnya sebagai lelucon. Kadang-kadang kalo sedang melewati jalan yang jelek dan bergeronjal, saya memegangi perut saya dan berkata, “Pelan-pelan bang, bahaya buat janin..”
Atau kalo makan rujak, saya menyingkirkan nanasnya dan membuat suami bertanya, “Kenapa? Kok ga dimakan?”
Saya cuma nyengir dan suami langsung tau. “Takut keguguran kah?” Kami pun tertawa bersama.
Kadang-kadang dia memegangi perut saya dan berkata, “Lagi nendang nih…!” Atau sebaliknya, saya yang memegang perutnya dan berkomentar hal yang sama ![]()
Oh iya, beberapa hari yang lalu suami pernah sms, “Maaf ya, tadi aku makan nanas muda
” dan saya cekikikan sendiri di sela-sela rapat sekolah.
Ya, tentu saja saya masih in waiting for babies, tapi sudah tidak sesenewen dulu. Kalau sekarang ada yang bertanya, sudah hamil belum? Akan saya jawab dengan senang hati, “Alhamdulillah belum..” Tak lupa plus senyum manis di bibir
Buat yang punya pengalaman sama, tetap semangat ya
waah..makasih ya mbak, udah sharing ceritanya..sekarang saya jadi tauk betapa sensitifnya bagi mereka yang sedang menunggu kedatangan buah hati bila dapat pertanyaan2 seperti itu… tetap semangat ya mbak, tetap sabar..semua akan indah pada waktunya.
*lah ini tadinya cuman mau blog walking malah jadi komen panjang…hehehe.
| Posted 1 year, 5 months agomakasih ya mbak fitri untuk semangatnya
makasih juga udh mampir
| Posted 1 year, 5 months agokeep fighting…… hehheeee…….. anjing menggonggong kafilah berlalu…..wekekekeeeeek………. InsyaAllah akan datang pada saat yang tepat dan istimewa…amin….
| Posted 1 year, 5 months agoassalamualaikum…
| Posted 1 year, 3 months agowahh…sepertinya yg dituliskan mbnya ini hampir sama dengan pengalamanku…
semua teman2 smaku yg menikahnya hanya berjarak beberrap minggu…sudah hamil semua…hehhee…dan yg paling innterest untk bertanya malah teman2 sma…
klo suami saya yg sllalu menguatkan…gpp dek…masih berjauhan ini jg ( ktmu 1 mgg/2mgg sekali karena beda daerah ), lagian yg tanya mereka juga pada belum nikah…so..kita beruntung..sudah menikah…
cm akhirnya…dia jg ikut cepet2 pengin,gr2 cek di Dr.SP.Og krn ada kmungkkinan aku keguguran spontan,pertama kali lihat rahim di monitor pas USG, dia jd mulai wah….sperti itukah rahim?? subhanalloh..kalo ada dedeknya…
skrg kmi masih berusaha…
semangattt mb….^_^
tetep semangat yaa mbak sintaa…;) tx udah ikut sharing
| Posted 6 months, 2 weeks ago