Comments Off
apocalypse
this heartbeat
we can’t even explain
and as the dawn comes
i’m lost.
where are thou, darling?
i’m losing your shout.
i’m lost
i’m lost
i guess i miss you a lot.
hidung
akhir-akhir ini, tanpa melirik ke bawah, saya bisa melihat bayangan hidung saya sendiri.
kirain ada noda, atau upil yang nangkring di sana.
tapi pas ngaca, ternyata gak kenapa2 tuh.
hm….saya semakin mancung atau apa ya?
atau area penglihatan mata saya semakin melebar?
kenapa tidak melebar 360 derajat saja ya? jadi saya bisa melihat orang yang ada di belakang saya.
tapi serem ah.
ini tulisan kok gak penting banget sih.
Comments Off
ultah
I hate(d) birthday.
Sejak kapan ya? Saya juga lupa. Yang pasti saat masih kecil saya hepi-hepi aja kalo lagi ulang tahun.
Tapi pas udah tua menginjak remaja gini saya merasa aneh. Tiap kali ulangtahun, saya ingin selalu melompatinya dan langsung maju ke hari berikutnya. Entahlah, saya takut kalau orang-orang di sekitar saya ingat dan mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Hehe..ge-er. Tapi kenyataannya, saya memang justru merasa lega kalau mereka lupa dan gak bilang apa-apa.
i hate(d) birthday.
Tapi hari ini agak berbeda.
Dimulai dengan ketiduran semalem, lagi males ngapa-ngapain. Baru pulang dari taman anggrek. Masih pake seragam, belum sholat, belum makan, belum bersih-bersih. Abis smsan sama Reni, teman smp saya, tau-tau ketiduran aja.
Begitu bangun…HADUH! belum isya!! Udah jam brapa ini???? Udah pagi jangan-jangan??!!
Pas ngeliat hp, ternyata jam setengah 3. Hahh…slamet2…
Lho, ada 4 new messages juga di inbox.
2 delivery reports dan 2 pesan.
Ada nama ilham, salah satu sahabat saya, campers maut di bolang :p
Akhir-akhir ini saya jarang berhubungan dengan dia. Ada apa ya?
Pas dibuka, ternyata ngucapin selamat ulang tahun. Hari ini ulang tahun saya gitu?
Saya langsung terharu.
Lho kok terharu? Katanya gak suka hari ulangtahun?
Itulah saya juga heran. Tapi kalau kamu pernah mengalami kegopohan bangun dari tidur, gak inget apapun selain mengira kalo udah subuh, ternyata di suatu tempat sana, teman yang kamu kira sudah gak care lagi, ternyata ingat kalo tanggal ini adalah tanggal kelahiranmu, dan mau bela-belain sms di pagi buta untuk mengucapkan selamat dan mendoakan yang baik-baik untukmu. Mungkin itu bisa membuat siapa saja merasa terharu.
Ya Allah, terima kasih ya. rika terharu nih. Huh, dasar sentimentil.
Tengkyu ya Am, my bro.
Lalu saya baru ngeh dengan nama yang kedua: Vira. Tadinya gak sadar kalo vira adalah temennya irma—temen kos di batu api pas jaman kuliah dulu. Dan ketika saya baca smsnya, eh…ternyata dia juga ngucapin selamat ultah buat saya. Dan doanya juga indah.
Ya ampun gak nyangka, dia masih inget aja. Padahal kan sudah puluhan tahun berlalu.. Oh iya, jangan ge-er dulu, soalnya tanggal lahir kami bersebelahan sih. Dan saya agak lupa, dia tanggal 7 atau tanggal 9 ya?? Ah, tanggal yang mana saja yang penting besok saya akan memberinya selamat.
Dan bagi saya, doa orang2 ini di pagi buta adalah kado yang sangat indah dari Allah.
Kado? Yakin, kado?
Kado kan untuk orang-orang yang berbuat baik.
Berarti teguran?
“Terkadang Allah menegur dengan sangat sopan”
Oh, Allah sudah membuat saya malu..
Setelah pagi, datanglah sms-sms lain bernada kuranglebih sama. Saya merasa aneh lagi. Tapi di sisi lain, saya juga senang dengan doa-doa yang diucapkan. Yang paling panjang adalah dari ibu. Ya ampun ibu…huhuu…. maafkan anakmu ini! Doa ibu untuk saya sangat indah. Saya gak nyangka akan ada kalimat, “ibu gak pernah bosan-bosannya meminta sama Allah agar…blablablablabla….”
Jadi…jadi bu…ja…ja..jadi…jadi….jadi selama ini ibu selalu mendoakanku dengan doa-doa indah semacam itu??
Saya langsung teringat ucapan Mamat, teman lama saya yang rada sableng tapi kadang-kadang omongannya kayak ustadz. Waktu kemarin saya nyaris gak bisa mudik, dia memberi petuah pada saya seputar topik malin kundang.
“Kamu tau kenapa kita gak boleh durhaka sama orang tua?” tanyanya.
“Kenapa?”
“Karena orangtua selalu mendoakan kebaikan buat anaknya. Meskipun mungkin hanya ‘mbatin’, tapi pasti yang diminta adalah yang baik-baik saja buat kita. (Betul, saya membuktikannya sendiri hari ini!) Gak pernah orang tua minta yang jelek buat anaknya. Yaaah……..kecuali orangtua gendeng.”
Betul.
Hari ini, saya juga memutuskan untuk tidak ke kantor karna saya harus menyervis barang yang rusak di suatu tempat bernama buah-buahan dan angka dua.
Apalagi, saya juga ada janji dengan teman saya dari Mataram yang bernama prima. Jadi sekalian saja libur. Hehehe. Maaf pak, bu, saya bolos dulu. Itung-itung kompensasi kerja rodi saya selama 12 tahun ini..
Oia, prima ini adalah salah satu teman yang berjasa membawa saya pada info unik tentang Sembalun—salah satu desa di kaki Gunung Rinjani. Saya merasa hutang supri padanya. Nah, Mas Supri itu lain lagi, dia temannya Prima yang menjadi ‘ranger’ Rinjani. Dialah yang memberitau saya info tentang adanya pemangggilan sapi liar yang keren itu.
Tapi…..saya mengenal Prima itupun dari Afri. Jadi sebenarnya saya ini hutang pada siapa?? Pada Afri, Mas Supri, atau pada Prima? Atau pada Pak er-te Sembalun? Sudahlah. Yang pasti, hari ini saya gembira bersama Prima. Bukan perasaan berbunga-bunga karena cinta lho! Soalnya Prima juga sudah beristeri dan beranak dua (hehe, boong deng. Prima bisa marah karena saya merusak pasarannya). Sebabnya adalah, karna lamanya waktu servis, jarak tempuh kendaraan, dan faktor macet, jadi aja saya menghabiskan hari bersama teman yang sama sekali tidak tahu ataupun curiga kalau hari ini hari ulangtahun saya! (yaiyalah, ngapain juga musti curiga??) Ahaha. Senangnya!!
Padahal kalo dipikir-pikir, dimana letak kesenangannya ya? Dan dimana letak alasan rasionalnya sehingga saya membenci hari ulangtahun? Mungkin jawabannya adalah yang datang di pertigaan hari, saat teman kantor saya si Endong-reporter-handal dan mbak Dini menelpon. Ternyata mereka tau kalau hari ini saya ulangtahun dan mereka menagih, apalagi kalau bukan traktiran! Ah, kalian ini tetap saja tak berubah (huehehe). Sabar teman, nanti saja ya kalau saya sudah kaya.
Pada akhirnya, saya masih tidak terlalu suka hari ulangtahun. Tapi saya suka, sukaaa sekali diberi kado.
Akhir kata, trimakasih ya bu, sudah mau melahirkan aku..
(catatan waktu ultah)
sms siapa?
Hai ka. Ini aku kakaknya bolga dari uhaimate. Kirimkan aku pulsa ya kak. Aku tidak punya pulsa. Balas ya kak..
Tercatat di hape saya, nama pengirimnya adalah uhaimate.
Maaf ya, saya juga lagi fakir pulsa, batin saya. Ada sedikit kenangan tidak menyenangkan tentang pengirim sms ini.
Uhaimate adalah salah satu dusun yang pernah saya datangi saat liputan di propinsi Sulawesi Barat.
Seseorang pemilik nama uhaimate di hp saya itu, saya ingat betul, adalah seorang bapak dari salah satu bolang, yang sempat meragukan kalo saya dan teman saya (waktu itu beni) benar-benar resmi dari tivi tempat saya bekerja (mungkin dikira tukang culik anak).
Saya juga ingat, si bapak itu berambisi jadi kepala desa, dan—maaf ya pak—entah mengapa saya agak tidak bersimpati pada gayanya.
Makanya, namanya pun tidak saya ingat-ingat. Dan ketika dia memberi no hape, saya hanya beri nama : uhaimate.
Masak, dulu pernah nih malam-malam sekali, nomor itu menelepon. Untungnya pas saya lagi insomnia. Nah, si bapak ngobrolnya gak jelas gitu. Pokoknya obrolan yang tidak penting lah… Saya malas-malasan menanggapi, hanya menjawab seperlunya saja demi kesopanan terhadap narsum.
Keesokan harinya, pas saya lagi mau menelpon, tiba-tiba mbak operator bilang kalo pulsa saya tidak cukup buat nelpon. Lah, how come???! Perasaan saya baru ngisi pulsa deh! Pas saya cerita ke teman, dia bilang mungkin ada orang iseng ‘nyatut’ pulsa saya, yang modus operandinya adalah dengan menelepon!
Jreeng…. Dan tersangka utama dalam benak suudzon saya adalah nama “uhaimate”.
Sejak itu saya berjanji, kalo ada nomor itu menelepon, saya tidak akan mau mengangkatnya lagi. Trauma.
Tak lama kemudian, datang sms lagi.
Ini adalah layanan telkomsel call me. Pelanggan 08 sekian sekian meminta anda menghubunginya..
Hyaa…nomor itu lagi!
Huh, biarin ah. Pura-pura gak baca.
Btw, kadang-kadang, saya juga suka menerima sms bernada sama dari mantan bolang-bolang saya (duile, “bolang saya”). Tapi kalo sama yang lain, saya tidak pernah sebal seperti ketika saya menerima sms dari uhaimate tadi. Kadang-kadang sms mereka singkat saja:
Kak, minta pulsa.
Kalo lagi baik saya balas sms. Atau saya balas menelepon kalo saya memang lagi kangen pada mereka. Tapi tetap tidak pernah saya kirimi pulsa. Huehehe. Lagian kecil-kecil buat apa sih pulsa? Hada2 ajah!
Pernah juga ada sms begini:
Tante, sedang dimana? Kalau boleh, saya minta oleh-oleh. Ini alamat saya di ambon: …. Kalau tante jadi kirim, lewat pos saja ya.
Hihi…
Tapi ada juga lho tipe sms yang membuat saya mengharu-biru. Seperti yang ini misalnya:
Kaka rika, pian baik-baik sajakah? Dimana kaka sekarang?
Aduh, sayangkyu..kamu lucu sekali!
Atau yang ini, datang pagi-pagi sekali saat saya baru bangun tidur:
Kak rika, pa khabarx kak ( tipe anak gaul: nya- nya pake ‘x’), knp ka2 tdk pernah lagi sms kami. Kak, kami rindu pada ka2. by jacky sibolang.
So sweet gak seeh.. (bahasa gaul juga critanya, cuih..). Langsung saja saya balas kalo saya juga rindu pada mereka.
Tak lama kemudian, datang lagi balasannya:
Iya, ka, kami sudah rindu suting si bolang.
Yeee…ternyata bukan rindu padaku, tapi rindu disorot kamera! Ah dasar banci tampil…