Comments Off
i love u
the more i love you, the more i hate to say “i love you”
Dalam hal-hal tertentu, saya bukan orang yang ekspresif mengungkapkan perasaan. Seperti rasa sayang. Mungkin karna kultur keluarga juga kali ya. Kami tidak terbiasa untuk bermanja-manja dengan ungkapan verbal atau non-verbal. Sayang sih sayang. Sayang banget. Tapi kalo untuk bilang dengan enteng, “bu, aku sayang ibu.” Uwaaaa…..malunya bisa berhari-hari tuh! Mungkin kultur budaya kita juga kali ya. Karna ternyata banyak juga teman2 yang punya perasaan sama. Padahal rasul pernah bilang, kalo sayang sama ’saudara’mu, katakanlah, agar dia tau kalau kau sayang padanya. Tapi maaf ya rasul, sepertinya susah kalo untuk ngungkapin ke keluarga secara langsung. Makanya saya bilang disini aja deh, soalnya mereka gak mungkin baca. hehe…
” ………………………………………………………….!!!”
(Hah,lega.)
Tapi kenapa ya kalo sama teman bisa beda. Lebih gak terbebani untuk bilang sayang. Lebih mudah untuk mengungkapkannya. Apalagi kalo konteksnya canda-tawa semata. Bukan berarti kadar sayangnya sedikit. Gak juga sih. Mungkin karena teman gak tau saya sejak masih bayi kali ya, jadi bisa meng-create hubungan seperti apapun yang kami mau.
Balik lagi tentang “i love u” ke keluarga. Ada crita tentang om saya yang kocak dengan anak ceweknya yang SMA. Critanya, om saya itu pengen nge-sun pipi anaknya. Wajar lah.. namanya juga bapak ke anaknya. Tapi bukannya rela, adek saya itu malah langsung menolak mentah-mentah (catatan: adek saya ini tipikalnya memang agak judes dan galak).
Mungkin om saya ini trakhir kali nyium adek saya waktu dia masih es-de. Makanya kangen. Sedangkan adek saya, karena sudah besar, makanya dia risih. Om saya masih aja keukeuh, malah sengaja godain adek saya yang cemberut, “kenapa sih gak mau? aku kan bapakmu” Adek saya tetep ogah. Om saya tambah semangat godain, pake iming-iming uang 20ribu segala kalo adek saya itu mau di sun. Eh, pas denger ada imbalan, adek saya akhirnya mau juga. Hihi….dasar cewek.
Nah, kemudian setelah beberapa waktu lamanya, beberapa minggu lamanya, gak ada angin gak ada hujan, adek saya ini tiba-tiba nanya sama bapaknya, “Pak, mau di sun lagi gak pak, sama aku?”
Om saya yang tau gelagat gak wajar anaknya, langsung nembak, “Kenapa? kamu lagi gak punya uang ya?” (yaiyalah, apa lagi?)
“Hehe, iya” jawab adek saya polos.
“Enggak ah”. Hihi…rasakan, sekarang giliran bapaknya yang jual mahal.
Ah, family’s story, ada-ada aja.
There’s a big family, there’s a small family, dan seperti kata Barney, but mine is right for me. Yeah, mine is right for me. love u..
Comments Off
empat hari untuk…beberapa saat lamanya
perjalanan jakarta-jember 10-13 mei 2008:
“Ayo sayang, apa yang ingin kau katakan?
Sekarang, aku punya banyak waktu untuk mendengarkan..”
hmmmm..mungkin ada benarnya juga petuah ini:
Bunuh semua gurumu, Bakar semua bukumu
Kearifan, hanya ada di renung-diri
DO TRY THIS AT ‘HOME’!
Comments Off
zoo!
Hmmmmmm……. hari ini datang pagi. Hohoho… kirain paling pagi lagi kayak kemaren dulu, eh gak taunya udah ada Benny yang lagi sibuk ngetik-ngetik di komputer tengah dengan alunan musik batak kesayangannya. Hehe.. halo Ben!
Terus rencananya pagi ini mau survey2 tentang ntb (sodara-sodaraaa…akhirnya kesampean juga mo liputan my beloved-bolang wawo ke lombooook…! insya Allah..aamiin…aamiin…) tapi lagi pengen nulis-nulis dulu ah.
Tentang liputan kemaren. Tentang Tenggarong dengan segala pesonanya sebagai kabupaten kaya-raya plus jembatan “golden-gate” nya, tentang Samarinda, dan gimana critanya sampai kami (akiu dan peppy) memutuskan utk meliput di daerah Balikpapan saja. Padahaaaal…..rencana awal adalah Tenggarong only! “Habiskan dulu yang di Tenggarong”, seperti titah produser. Gila kan, tiba-tiba kami harus merubah total skenario saat sudah tiba di lokasi. Oh, oh….
Ng, sebenernya gak semua juga ding. Masih ada sekian persen yang bisa dieksekusi meski tidak di Tenggarong. Dan Bukit Bangkirai juga udah oke.
Tapi kenapa tiba-tiba saya jadi malas bercerita tentang itu ya? Hehe. Panjang soalnya. Cerita yang lain sajalah.
Saat survey di Samarinda, saya mengunjungi Kebun Rayanya. Disitu ada Kebun Binatangnya. Di kebun binatang itu ada orang utannya. Dan saya syok melihat keadaannya.
Seperti halnya hewan-hewan lain di kebun binatang, orang utan itu tinggal di balik jeruji besi. Kotor, kumuh. Suram, tidak menyenangkan untuk dipandang. Kalau dimampatkan jadi satu kata, mungkin prihatin bisa mewakilinya.
Duh, bagaimana mungkin, hewan langka yang dilindungi, yang katanya di seluruh dunia udah tinggal 100.000an aja, harus tinggal di tempat semenyedihkan itu??
Di dalam gubuk derita tersebut tinggallah dua ekor orangutan. Yang satu ukuran badannya lebih kecil. Saya tidak tahu hubungan mereka apa. Apakah ibu/ayah-anak, atau paman-keponakan, atau sepupu, atau teman kencan. Tidak ada petugas di sekitar kami yang bisa memberikan penjelasan. Kebetulan..
Yang pasti, melihat kondisi mereka, membuat saya merasa agak tertekan. Apalagi saat si orangutan mengulurkan tangannya (minta cemilan barangkali), saya sempat menggenggamnya. Hangat. Seperti tangan manusia. Hei, sudah berapa lama kalian teraniaya? Tidak bisa naik pohon, bergelantungan, mencari makan, bersosialisasi dengan para orangutan lainnya?
Saat itu hati dan otak saya sepakat, kebun binatang bagaikan kamp penyiksaan bagi hewan-hewan. Bagaimana mungkin, dengan dalih memelihara dan menjaga kelestarian, kita justru menelantarkan hak mereka untuk hidup layak sesuai kodratnya? Yah, mungkin itu pikiran dangkal saya saat itu ya, karena ngeliat kondisi kebun binatang yang tidak terawat begitu. Saya juga pernah mengunjungi kebun binatang yang jauh lebih bagus dan terawat. Tapi….tetap saja kalau luas outdoor nya gak memadai, dapat membuat hewan-hewan itu ga bisa hidup bebas… Yang harus disalahkan sebenarnya adalah para pemburu liar. Yang membuat populasi binatang jadi berkurang. Membuat binatang-binatang langka jadi dimasukkan kebun binatang untuk dilestarikan. Huh. sejuta topan badai….
Tapi..kalo balai konservasi mah beda ya.


Dan sebenarnya sih kalo dipikir-pikir, kebun binatang adalah tempat untuk memajang para binatang-binatang. Baik yang langka maupun yang tidak, sekedar untuk pamer-pameran dan lucu-lucuan. Positifnya, kebun binatang juga bisa sebagai sarana pengenalan binatang untuk anak-anak.
Begitulah.. Saya bukan penentang mutlak kebun binatang. Mungkin kalo nanti punya anak juga bakalan dibawa ke kebun binatang. Mungkin. Tapi setidaknya, kalo misalnya nanti punya uang banyak, saya gak mau ah uang saya itu untuk bikin kebun binatang. Hihi….
Comments Off
adorable Kartini
Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh. (115)
Tahulah kami sekarang ini, kami tiada dapat lagi melepaskannya, (cita-cita kami itu) sudah menjadi satu dan mesra dengan kehidupan kami. Kalau mereka hendak mengubah pikiran dan perasaan kami, haruslah diberikan kepada kami, hati yang baru, otak dan darah baru! Siapa yang telah pernah mengenal jiwanya, kodrat iradat Tuhan dalam diri manusia, siapa yang telah pernah mendengar teriakannya meminta cahaya dan telah paham akan katanya, maka orang itu tiada akan dapat lagi melupakannya. (112)
Kami disini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami—oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan, hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap menjadikan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu—pendidik manusia yang pertama-tama.
Bukankah dari perempuanlah manusia itu mula-mula sekali mendapat didikannya yang biasanya bukan tidak penting artinya bagi manusia selama hidupnya.
Perempuanlah yang menaburkan bibit rasa kebaktian dan kejahatan yang pertama-tama sekali dalam hati sanubari manusia; rasa kebaktian dan kejahatan itu kebanyakannya tetaplah ada pada manusia itu selama hidupnya.
Beberapa lamanya, pada pikir kami, orang pandai yang banyak pengetahuannya, mulia pulalah budi pekertinya. Sayang! Untunglah dengan lekas kami terjaga dari mimpi itu—lalu mulailah tampak oleh kami, bahwa berpengetahuan banyak itu belumlah sekali-kali, menjadi ijazah tanda mulia budi pekerti orang itu
..dan kami pun sampai pulalah ke hadapan pintu gerbang yang kedua: “Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula! Sekolah mencerdaskan pikiran sedang kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu!”
Ibulah yang jadi pusat kehidupan rumah tangga, dari ibu itulah dipertanggungkan kewajiban pendidikan anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk budinya.
Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna, jagalah supaya ia cakap kelak memikul kewajiban yang berat itu.
O, tahulah kiranya sekalian ibu, apa yang sebenarnya diterimanya, bila ia dikaruniai bahagia perempuan yang sebesar-besarnya: kemewahan ibu! Bersama-sama dengan menerima anak itu diterimanyalah kewajiban untuk membentuk masa yang akan datang… Dia mendapat anak itu bukanlah untuk dirinya sendiri, anak itu wajib dididiknya untuk keperluan keluarga besar, yang anak itu menjadi anggotanya kelak, keluarga yang sangat besarnya itu yang dinamai masyarakat (peradaban) itu!
Karena itulah kami maka minta pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak gadis. (159-161)
Waw, beda banget yah, emansipasi perempuan sekarang sama emansipasi yang sebenar-benarnya diinginkan oleh Kartini. Gak kebayang aja kalo sekarang Kartini masih ada, tentu dia akan sedih dan hatinya terluka. Banyak orang salah kaprah mengatasnamakan “emansipasi Kartini” dengan bergiat-giat jadi wanita karier di kantor, tapi ‘pendidikan’ pertama bagi anaknya justru diserahkan pada bebi sitter!
Hiks.
Padahal Kartini sendiri jelas-jelas bilang, Ibulah yang jadi pusat kehidupan rumah tangga.
Gimana ya, nasipku kelak. Mudah2an aja bisa jadi ibu yang baik tapi sekaligus juga bagus di karir. Hehehe.. maunya..!
Ada lagi yang menarik. Istrinya Arnold, Arnold yang artis holiwut dan jadi walikota tea, Nah dalam Oprah Show istrinya itu bilang kalo dia bangga jadi ibu rumah tangga. “Memangnya kenapa?” katanya. “Kenapa para ibu rumah tangga saat ditanya profesi, mereka menjawab ‘im just a house-mother’? just?? Hei, ini pekerjaan istimewa. Saat saya ditanya apa pekerjaan saya, akan saya jawab dengan penuh harga diri; saya seorang ibu rumah tangga. Without just.”
Wooo…
Over all, Kartini, she’s so adorable. Di tangan Pram (“Panggil Aku Kartini Saja”) karakter Kartini sebagai perempuan yang kuat dan modern makin nampak aja. Sayangnya ada hal-hal yang ga diungkapkan sama Pram. Misalnya tentang perubahan spiritual Kartini dari yang semula apatis sama agama jadi sangat religius itu. Di Panggil Aku, Pram hanya menjelaskan kalo Kartini memahami agama secara universal, bukan sebagai orang yang taat dalam beragama.
Padahal kalo dalam Habis Gelap keliatan banget perubahan jiwa Kartini dan pemaknaannya terhadap Tuhan dan agama. Bahkan dalam sumber lain disebutkan, Kartini yang semula menganggap gila membaca Quran tanpa mengerti artinya itu, pada akhirnya sempat juga belajar AlQuran dengan salah seorang ustadz (Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar). Dari ustadz itu juga Kartini mendapatkan kado pernikahan Quran + terjemahnya dalam bahasa Jawa.
Pokoknya ga nyangka deh..ternyata cerita tentang Kartini bisa begitu bedanya dengan cerita guru2 kita semenjak SD sampe SMA.
Comments Off
Untuk kartini
21 April 2007 – 1879
Untuk kartini.
Hai kartini,,,apa kabar? Tentunya sekarang kau sudah tenang dan damai disana.
Syukurlah..aku ikut senang. Aduh, apaan sih ini, garing..
Aku ingat, dulu aku–kami anak-anak sekolah–selalu memanggilmu dengan kata ibu. Saat itu bagi kami, bagiku, sosokmu tergambar sebagai seorang ibu yang pengayom, bersahaja, namun sekaligus ’pendekar’ bagi kaummu seperti yang terlirik dalam lagu yang telah kami hafal—bahkan not lagunya—sejak kami masih TK.
Lalu saat di awal bangku kuliah, tanpa sengaja aku menemukan ’Habis Gelap Terbitlah Terang’ di perpustakaan kos-ku. Buku itu sudah kumal dan lusuh. Tapi karena itulah aku amat tertarik untuk membacanya. Judul buku itu amat terkenalnya semenjak aku masih SD. Namun seingatku, tak pernah seorang gurupun di sepanjang perjalanan sekolah formalku, menyuruh muridnya—maksudku benar-benar menugaskan kami—untuk membeli buku itu dan membacanya sampai khatam, merangkum isinya, kemudian mendiskusikannya di depan kelas. Tidak pernah.
Aku bahkan baru tahu kalau buku itu ternyata bukanlah tulisan yang sengaja kau karang untuk menjadi sebuah buku, melainkan kumpulan surat-surat yang kaukirimkan untuk para sahabatmu.
Dan membacanya, aku merasa seperti sedang berkenalan langsung dengan seorang perempuan yang luar biasa. Pintar dan berani. Sangat humanis, tapi juga berhati lembut. Kartini. Sejak itu, namamu memiliki arti yang sangat besar bagiku. Citramu sebagai perempuan tua berkebaya (maaf ya..) serta-merta langsung runtuh. Entah mengapa, aku jadi merasa begitu sayang dan rindu padamu. Gila ya, kedengarannya. Tapi mungkin itulah..kalau dalam bahasa Tukul kristalisasi keringat, bagiku ini adalah kristalisasi kekaguman yang mengharu-biru.
Kau baru seumurku saat menggugat dunia. Lebih muda, bahkan. Surat pertama yang tercantum dalam buku Habis Gelap.. menunjukkan saat itu kau masih berumur 20! Dan kau sudah fasih berbicara tentang cita-cita peradaban bagi bangsamu, pribumi. What a girl..
Dan betapa sejarah mendistorsinya dengan menyebutmu ”ibu”, memberi kesan tua dan tak lincah! Menyebalkan.
Padahal kau masih gadis muda belia! Gadis muda yang berani menantang dunia tentang ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ah, kalau saja para siswi SMP itu tahu bahwa Ibu Kita Kartini mereka hanya terpaut lima tahun dengan umur mereka, seusia kakak perempuan mereka, akankah mereka menganggap Hari Kartini sebagai seremonial jarik-sanggul-kebaya belaka?
Ah, Kartini..
Masa yang kau sebutkan itu kini telah datang. Tiga generasi telah berlalu, dan seperti perkiraanmu, masa perempuan bisa bebas mengenyam pendidikan seperti laki-laki, terkabul sudah.
Masa perempuan bisa menentukan dengan siapa ia hendak menikah, masa perempuan memiliki hak dan martabat sebagai manusia merdeka, masa perempuan tak lagi dipingit di dalam rumah, semuanya telah terwujud.
Kau senang bukan?
Itulah cita-citamu.
Meskipun tidak seluruhnya.
Aku tahu dari tulisanmu, bahwa kau memimpikan tak hanya sekedar itu saja.
Satu hal yang paling menarik bagiku justru konsep emansipasimu itu sendiri.
Inilah hutang yang aku bisa bayarkan padamu. Baru ini. Sudah sekian lama aku ingin membuat artikel tentang 21 April dan mengirimkannya ke media massa, namun belum terlaksana juga.
Payah ah.
Maka itulah aku menuliskan ini. Akan kupasang di blog atau di milis.
Ok bye. See u ya.