Safura


fin..finally..

Ah, querida…

Sudahlah.


Ayah

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

(“terbaik untukmu”, ada band feat gita gutawa)

Semalam saya rindu bapak. Rindu sekali. Ga tau ih, knapa tiba-tiba jadi serindu itu ya. Sampai menangis tergugu.

Pernah suatu kali, saat saya sedang mampir ke bandung dan wg, saya ngobrol ngalor-ngidul-etan-kulon dengan pak gamesh. Saya lupa waktu itu lagi ngomongin apa, yang pasti bukan topik tentang ke-ayah-an. Tapi tiba-tiba aja pak gamesh nyeletuk sambil manggut-manggut, “Kamu merindukan sosok ayah, ya?” Dan saya jadi tertegun.

“Iya kali, Pak,” jawab saya waktu itu.

Tiba-tiba saya jadi memahami. Pantesan, cerpen pertama (dan satu-satunya) yang saya tulis di usia dewasa ini adalah tentang gadis kecil dengan ayahnya. Draft skenario saya (yang belum jadijadi juga sampe sekarang), critanya tentang hubungan anak cowok dan ayahnya. Film korea paling favorit saya adalah Father and Son. Dan saya suka sekali lagu ada band feat gita gutawa yang tentang ayah itu..

Terkadang, kita memang butuh seseorang untuk menerjemahkan perasaan kita sendiri.


biutiful morn!

Wah, sebuah prestasi ini.

Saya sampe di kantor pukul tujuh.tiga empat. Huehehe. Hebat lah. Padahal seminggu kemarin, bahkan nyaris dua minggu, saya langganan dateng pas jam sholat Dzhuhur. Bahkan jam satu siang juga pernah. Aduh..karyawan macam apa itu. Yah, kalo menurut peritungan saya sendiri sih, sebagai kompensasi jika selama produksi dan post-produksi saya kerja hampir 24 jam. Sampe nginep-nginep segala malah. Lagian selama dua minggu kemarin belum ada kerjaan. Dan sekarang, karena saya sudah mulai memasuki proses pra-produksi lagi untuk next duty, jadinya harus mulai kerja keras lagi. Hore!

Pagi ini indah sekali. Sungguh, ternyata bangun pagi dan tidak tidur lagi itu sangat menyenangkan. Oh sekali lagi ternyata. Meskipun untuk itu harus rela mandi subuh-subuh. Saya berangkat jam enam lewat seperempat. Waktu kakak saya yang lagi berkunjung di jakarta masih tidur (entah pulang jam berapa dia semalam), waktu adek saya yang menurut saya sangat rajin dan berdedikasi pada kerjaannya itu, yang biasanya berangkat setengah tujuh itu masih mandi (cihuui..saya bisa brangkat lebih pagi dari dia ey!), waktu suara motor yang lewat jalan pintas di gang sebelah rumah masih terdengar satu-dua, waktu..bahkan kucing tetangga pun masih merem-melek menahan kantuk! (ah, tapi kucing sih emang binatang males ya), waktu itulah sodara-sodara, saya berangkat ke kantor. Hal yang jarang-jarang saya lakukan, meskipun sudah lama terpatri menjadi niat yang suci. Sebenarnya sih dulu, waktu saya masih banyak di kantor, saya sering brangkat pagi. Apalagi saat masih ikut mega health. Habis subuh tanpa mandi pun saya sudah berangkat. Makanya saat ini saya seperti bernostalgi dengan kerinduan saya yang lama.

Ah, matahari pagi. Sinarnya bikin wajah manusia jadi punya light-side dan dark-side. Aduh, menyenangkan sekali melihat matahari dari dalam metromini. Hai “langit, apa kabar selama ini?”* Heei, bahkan saya dapat tempat duduk di metromini. Bahkan jalanan belum macet. Bahkan saya tidak sampai berkeringat saat tiba di kantor. Tidak sampai dehidrasi. Masih cantik. Bedak masih utuh. Hihi. Senangnya. Senangnya. Bahkan, hal yang paling klimaks terjadi pagi ini, saya kebagian ketupat sayur! Hah. rasakan kau tukang ketupat sayur. Setelah beberapa kali saya mengalami penolakan darinya (padahal saat itu masih jam 9 pagi, tapi tupatnya sudah habis!) akhirnya hari ini saya berhasil beli juga. Haha. Alhamdulillah.

Ya sudah lah. Saya mau menikmati ketupat sayur enak saya dulu. Mau menikmati sisa pagi. Saat masih belum banyak yang datang, masih bisa pake komputer mana saja sesuka saya. Setelah itu, mari mari jo kita orang bekerja, singsingkan lengan baju membangun bangsa.

*puisi sapardi yang maaf saya lupa judulnya