18 Desember 2008
Akhirnya saya sampai juga di Madura! Alhamdulillah… udah brapa lama ya gak kesini? Kalo gak salah trakhir sekitar tahun 2002an gitu. Enam tahun! Hampir tujuh..
Madura yang saya ingat adalah Jungcangcang, (dulu) sebuah desa kecil di pelosok Pamekasan. Tempat para leluhur saya berasal. Desa yang penduduknya masih tinggal di rumah gedhek (bambu), dan lantainya beralaskan tanah. Tempat mbah Nami, mbah Nama, De Hai, Lek Jai, dan handai tolan lain yang nama-namanya hanya saya ingat saat berkunjung kesana saja, berada.
Kunjungan singkat sesaat, hanya 3 hari paling lama. Hanya disitu-situ saja. Menyenangkan bertemu dengan orang-orangnya, tapi saya tidak terlalu suka iklimnya yang panas dan banyak nyamuk! Jadi intinya, beberapa kali kunjungan ke Madura belum pernah meninggalkan kesan yang kuat bagi saya. Ah, sayang ya.
Tapi kali ini beda.
Ini perjalanan bersama bolang. Dan sejak awal saya berkeinginan pengen lebih mengenal Madura dari sebelum-sebelumnya. Ada beberapa hal yang istimewa. Pertama, saya pergi bersama bolang2 yang cerdas. Gile…anak-anak itu pada makan apa sih bisa pinter gitu? Bolang akademisi banget deh. Kalo kemaren2 ortu bolang banyak yang berprofesi sebagai bisnismen, kalo yang ini akademisimen, yang mana mereka adalah orang-orang bergelar banyak yang berpendidikan sampe S3 segala. Dan itu bukan cuma ayahnya, melainkan ibunya juga!
Yang menjadi nilai plus, dari 3 bolang, dua diantaranya adalah keturunan Madura. Dan mereka lebih banyak tau Madura dibanding saya.
“Kak, Kak, tau gak, dulu di Madura ini ada rel kereta api lho, tapi sekarang udah gak ada lagi karena bla..bla..bla..”
“Nih ya Kak ya, kalau belok kanan terus arah ke Camplong, kalo kita ke kiri…bla..bla..bla..”
“Lho, kakak gak tau ya, pantai ini kan menghadap ke Selat Madura kak, jadi kakak bisa langsung nyeberang ke Jember dari sini”
Aduh….parah….kalah sama anak kecil. Yah, wajarlah… ke Maduranya juga lebih seringan mereka daripada saya (alesaaan…..)
Yang istimewa tu si Izza. Edun. Kemampuan visual geografi nya keren banget ey! Dia bisa menggambarkan peta Jawa Timur plus wilayah per kabupatennya. Peta singapura dan batas-batasnya. Peta Madura, sampai peta Depok dan dimana letak rumahnya.
Ck..ck.. padahal masih SD. Gimana kalo udah lulus kuliah nanti ya?
Anyway, sebenarnya bolang2 ini tidak bagus di depan kamera. Saya sebel sebenernya. Sebel sama Kepala Sekolahnya yang kami duga berkonspirasi dengan para ortu dalam memilih anak-anak ini. Ya sudahlah…untung aja mereka pinter-pinter. Kalo enggak…makin bete aja kali…
Keistimewaan kedua dalam trip ini, saya mengunjungi daerah yang belum pernah saya jamah saat kunjungan2 saya yang sebelumnya ke Madura. Banyusangka ini misalnya.
Saya jadi lebih menikmati setiap view yang ada. Selain karna gak mau kalah sama anak kecil (huehe) juga karna pengen gak terlalu kehilangan sejarah asal-asul saya sebagai orangmadura.
BANGKALAN
Daerah pertama yang kami kunjungi adalah Kabupaten Bangkalan. Tepi barat dari Pulau Madura.
Saat saya liputan tanggal 17-28 Desember lalu, di Madura sedang musim hujan. Dimana-mana sebenarnya, tidak hanya di Madura. Ombak pun sedang pasang. Nah, di pesisir Banyusangka-Bangkalan ini, kalo lagi musim ombak tinggi begini, nelayan tidak melaut. Kapalnya nganggur. Merekanya juga. Terus, mereka ngapain dong?
“Ya mengerjakan yang bisa dikerjakan. Kerja sambilan, bikin jaring, benerin perahu, bikin anak,” kata mas Agus, fixer kami di Bangkalan.
Hm…imbas cuaca bisa tertiup kemana-mana…
Ada lagi si rajungan, nasipnya lebih buruk lagi. Yang ini bukan hanya karena cuaca, tapi juga karena BBM yang melambung tinggi. Harga sekilo turun dari 25ribu menjadi 15 ribu. Walhasil, berimbas ke liputan saya juga. Tidak ada nelayan yang mood mencari rajungan. Item rajungan kami pun gagal… Huhu,,
Lalu, ada lagi rumah2 gedongan yang magrong-magrong. Di Bangkalan, jarang dan sulit sekali menemukan rumah tradisional Madura. Hal yang sering saya jumpai di Jungcangcang, disini tidak berlaku. Tapi…jreeeng…ternyata saya salah. Beberapa hari kemudian, saat sedang mampir sebentar di Jungcangcang, saya terlongo-longo melihat perubahan yang ada. Jalan setapak sempit yang dulu kalau hujan pasti becek, yang bahkan ojek pun malas lewat, kini sudah beraspal mulus. Bus mini juga bisa masuk kali. Rumah tradisional berlantai tanah berdinding bambu, sekarang sudah tembok cor-cor-an dan dicat warna-warni. Saya jadi malu pada mas Agus (driver kami) karena sudah sesumbar bakal menunjukkan pemandangan yang masih asli Madura, yang tidak bisa kami dapatkan selama di Bangkalan.
Sebenarnya alhamdulillah ya…kondisi Jungcangcang sudah jauh membaik. Hanya saja, saya rindu rumah-rumah tradisional tempat saya menginap dulu. Rindu angin semilir masuk melalui celah-celah bambunya. Ah, egois sekali saya ini.
Saat pertama tiba, saya menikmati sensasi euforia balik kampung. Saya sukaaaa sekali mendengar logat bicara, wajah, senyuman, dan pandangan tajam mereka. Oooh, betapa saya mencintai tanah ini sebenarnya.
Saat mendengar logat bicara mereka, ada beberapa kata atau intonasi yang cara mereka mengucapkannya mengingatkan saya pada diri saya sendiri dan lingkungan yang membentuk saya di Jember. Saya agak terkejut dan seketika itu juga sadar, untuk pertama kalinya, bahwa rupanya logat itu ada sejarah asal-usulnya toh.. Rupanya kata-kata yang saya anggap wajar dan tak pernah berpikiran tentang asal-muasalnya itu, ternyata saya warisi dari tanah ini. Pikiran bahwa saya tersambung secara kata-kata dan asal-usul dengan orang-orang yang berbeda pulau dan tidak saya kenal, membuat saya takjub. Mestinya sih tidak usah kaget, karena sebenarnya banyak orang Jember yang dulunya adalah perantauan dari Madura. Seperti kakek nenek saya.
Liputan pertama adalah karapan kelinci.
Orang Madura itu gemar ber-karapan. Kalo menurut perkiraan saya, karapan itu artinya balapan (hehe, akurasinya meragukan). Selain karapan sapi yang tersohor itu, ada juga karapan kelinci, karapan kambing, karapan orang (permainan), bahkan karapan kucing juga pernah diadakan! Aneh-aneh aja ya. Khusus karapan kucing gak populer dan gak akan kita temui lagi. Karena, yah….namanya juga kucing. Ketika disuruh balapan di track yang udah disediakan, mereka malah loncat keluar jalur. Walhasil lombanya gak selesai-selesai dan sulit mendapatkan pemenangnya. Daripada bikin emosi, akhirnya demi kebaikan bersama, kucing pun dicoret dari daftar binatang yang bisa di-karap. Begitu menurut keterangan salah satu warga pecinta Karapan di Bangkalan.
Kalau karapan kelinci, menurut sejarahnya mulai dikenalkan oleh para penggemar kelinci pada tahun 1990-an di Kabupaten Sampang. Binatang lucu ginuk-ginuk itu dipelihara dan dimontokkan dengan tujuan untuk diadu kecepatannya. Biasanya adu kelinci ini diadakan tiap minggu atau tiap bulan dengan berbagai hadiah semacem lomba panjat pinang. Narsum saya, mas Yanto, pernah menang dua kali. Dapat tv sama kompor gas.
Kelinci-kelinci ini juga dimanja dalam hal makanan dan asupan vitamin. Rutin dikasi jamu dan telor. Dan saat break syuting, saat si kelinci mulai kelelahan karena berlari, mas Yanto dan asistennya datang bergegas sambil membawa sebotol minuman. Pas saya lihat, ternyata yang mereka bawa adalah larutan cap kaki tiga. Saya kira hanya air putih biasa yang ditaruh di botol tersebut, ternyata emang beneran larutan cap kaki tiga asli. “Supaya gak panas dalam,” kata mas Yanto sambil mesem. Ooo…
Anyway, sebenarnya saya kasian juga sama kelinci-kelinci sok imut itu. Supaya larinya kencang, punggung atau telinga mereka dijepit dengan sesuatu. Tentu saja lari mereka yang udah kencang, jadi makin kencang karna kesakitan. Hiks.. Setelah karapan selesai, kelinci dielus-elus lagi. Disayang-sayang lagi. Dijamu lagi. Dikasi telor dan makanan bergisi lagi. Seminggu kemudian, dijepit lagi buat dibalap. Argh, kejamnya dunia. Ada semacam penyesalan yang saya paksakan. Kenapa saya mengambilnya jadi item liputan ya? Ya…sebenarnya terpaksa juga sih. Saya kan baru tau fakta itu saat sudah di lapangan. Sudah terlambat untuk mengganti obyek liputan. Lagipula, saya tidak memperlihatkan bagian itu di kamera untuk mencegah anak-anak berpikiran bahwa sah-sah saja “sedikit menyetimulus” binatang untuk mendapatkan efek yang manusia inginkan. Ya, ya, ini memang pembenaran. Saya setuju-setuju saja dengan karapan kelincinya. Tapi saya tidak setuju dengan penjepitan itu. Huh,, ;(
Saat itu, saya masih belum ketemu dengan karapan sapi..
Sekian dulu… Kapan-kapan saya sambung lagi. Saya masih ingin cerita tentang Pak Slawi, cowboy Madura. Tentang Kraton Sumenep. Tentang Kuburan Raja-raja. Tentang nyamuk madura. Tentang liputan kebut-kebutan dengan hujan. Tapi sekarang saya harus prepare untuk daerah selanjutnya; Bromo! How does it sound?? Huehehe…maklum, saya belum pernah ke Bromo. Kata banyak orang keren ya? Kata ibu saya sih biasa aja. Malah menurutnya gak terlalu asik, banyak debu, bikin kelilipan! hehe… Tapi musim hujan gini… Duh, tolong doakan, semoga banyak keajaiban.