Safura

just my another blog

Madurrrrra [1] January 16, 2009

Filed under: itu — safura @ 11:23 am
Tags:

18 Desember 2008

Akhirnya saya sampai juga di Madura! Alhamdulillah… udah brapa lama ya gak kesini? Kalo gak salah trakhir sekitar tahun 2002an gitu. Enam tahun! Hampir tujuh..

Madura yang  saya ingat adalah Jungcangcang, (dulu) sebuah desa kecil di pelosok Pamekasan. Tempat para leluhur saya berasal. Desa yang penduduknya masih tinggal di rumah gedhek (bambu), dan lantainya beralaskan tanah. Tempat mbah Nami, mbah Nama, De Hai, Lek Jai, dan handai tolan lain yang nama-namanya hanya saya ingat saat berkunjung kesana saja, berada.

Kunjungan singkat sesaat, hanya 3 hari paling lama. Hanya disitu-situ saja. Menyenangkan bertemu dengan orang-orangnya, tapi saya tidak terlalu suka iklimnya yang panas dan banyak nyamuk! Jadi intinya, beberapa kali kunjungan ke Madura belum pernah meninggalkan kesan yang kuat bagi saya. Ah, sayang ya.

Tapi kali ini beda.

Ini perjalanan bersama bolang. Dan sejak awal saya berkeinginan pengen lebih mengenal Madura dari sebelum-sebelumnya. Ada beberapa hal yang istimewa. Pertama, saya pergi bersama bolang2 yang cerdas. Gile…anak-anak itu pada makan apa sih bisa pinter gitu? Bolang akademisi banget deh. Kalo kemaren2 ortu bolang banyak yang berprofesi sebagai bisnismen, kalo yang ini akademisimen, yang mana mereka adalah orang-orang bergelar banyak yang berpendidikan sampe S3 segala. Dan itu bukan cuma ayahnya, melainkan ibunya juga!

Yang menjadi nilai plus, dari 3 bolang, dua diantaranya adalah keturunan Madura. Dan mereka lebih banyak tau Madura dibanding saya.

“Kak, Kak, tau gak, dulu di Madura ini ada rel kereta api lho, tapi sekarang udah gak ada lagi karena bla..bla..bla..” 

“Nih ya Kak ya, kalau belok kanan terus arah ke Camplong, kalo kita ke kiri…bla..bla..bla..”

“Lho, kakak gak tau ya, pantai ini kan menghadap ke Selat Madura kak, jadi kakak bisa langsung nyeberang ke Jember dari sini”

Aduh….parah….kalah sama anak kecil. Yah, wajarlah… ke Maduranya juga lebih seringan mereka daripada saya (alesaaan…..)

Yang istimewa tu si Izza. Edun. Kemampuan visual geografi nya keren banget ey! Dia bisa menggambarkan peta Jawa Timur plus wilayah per kabupatennya. Peta singapura dan batas-batasnya. Peta Madura, sampai peta Depok dan dimana letak rumahnya.

Ck..ck.. padahal masih SD. Gimana kalo udah lulus kuliah nanti ya?

Anyway, sebenarnya bolang2 ini tidak bagus di depan kamera. Saya sebel sebenernya. Sebel sama Kepala Sekolahnya yang kami duga berkonspirasi dengan para ortu dalam memilih anak-anak ini. Ya sudahlah…untung aja mereka pinter-pinter. Kalo enggak…makin bete aja kali…

Keistimewaan kedua dalam trip ini, saya mengunjungi daerah yang belum pernah saya jamah saat kunjungan2 saya yang sebelumnya ke Madura. Banyusangka ini misalnya.

Saya jadi lebih menikmati setiap view yang ada. Selain karna gak mau kalah sama anak kecil (huehe) juga karna pengen gak terlalu kehilangan sejarah asal-asul saya sebagai orangmadura.

 

BANGKALAN

Daerah pertama yang kami kunjungi adalah Kabupaten Bangkalan. Tepi barat dari Pulau Madura.

Saat saya liputan tanggal 17-28 Desember lalu, di Madura sedang musim hujan. Dimana-mana sebenarnya, tidak hanya di Madura. Ombak pun sedang pasang. Nah, di pesisir Banyusangka-Bangkalan ini, kalo lagi musim ombak tinggi begini, nelayan tidak melaut. Kapalnya nganggur. Merekanya juga. Terus, mereka ngapain dong?

“Ya mengerjakan yang bisa dikerjakan. Kerja sambilan, bikin jaring, benerin perahu, bikin anak,” kata mas Agus, fixer kami di Bangkalan.

Hm…imbas cuaca bisa tertiup kemana-mana…

Ada lagi si rajungan, nasipnya lebih buruk lagi. Yang ini bukan hanya karena cuaca, tapi juga karena BBM  yang melambung tinggi. Harga sekilo turun dari 25ribu menjadi 15 ribu. Walhasil, berimbas ke liputan saya juga. Tidak ada nelayan yang mood mencari rajungan. Item rajungan kami pun gagal… Huhu,,

Lalu, ada lagi rumah2 gedongan yang magrong-magrong. Di Bangkalan, jarang dan sulit sekali menemukan rumah tradisional Madura. Hal yang sering  saya jumpai di Jungcangcang, disini tidak berlaku. Tapi…jreeeng…ternyata saya salah. Beberapa hari kemudian, saat sedang mampir sebentar di Jungcangcang, saya terlongo-longo melihat perubahan yang ada. Jalan setapak sempit yang dulu kalau hujan pasti becek, yang bahkan ojek pun malas lewat, kini sudah beraspal mulus. Bus mini juga bisa masuk kali. Rumah tradisional berlantai tanah berdinding bambu, sekarang sudah tembok cor-cor-an dan dicat warna-warni. Saya jadi malu pada mas Agus (driver kami) karena sudah sesumbar bakal menunjukkan pemandangan yang masih asli Madura, yang tidak bisa kami dapatkan selama di Bangkalan.

Sebenarnya alhamdulillah ya…kondisi Jungcangcang sudah jauh membaik. Hanya saja, saya rindu rumah-rumah tradisional tempat saya menginap dulu. Rindu angin semilir masuk melalui celah-celah bambunya. Ah, egois sekali saya ini.

 

Saat pertama tiba, saya menikmati sensasi euforia balik kampung. Saya sukaaaa sekali mendengar logat bicara, wajah, senyuman, dan pandangan tajam mereka. Oooh, betapa saya mencintai tanah ini sebenarnya.

Saat mendengar logat bicara mereka, ada beberapa kata atau intonasi yang cara mereka mengucapkannya mengingatkan saya pada diri saya sendiri dan lingkungan yang membentuk saya di Jember. Saya agak terkejut dan seketika itu juga sadar, untuk pertama kalinya, bahwa rupanya logat itu ada sejarah asal-usulnya toh.. Rupanya kata-kata yang saya anggap wajar dan tak pernah berpikiran tentang asal-muasalnya itu, ternyata saya warisi dari tanah ini. Pikiran bahwa saya tersambung secara kata-kata dan asal-usul dengan orang-orang yang berbeda pulau dan tidak saya kenal, membuat saya takjub. Mestinya sih tidak usah kaget, karena sebenarnya banyak orang Jember yang dulunya adalah perantauan dari Madura. Seperti kakek nenek saya.

Liputan pertama adalah karapan kelinci.

Orang Madura itu gemar ber-karapan. Kalo menurut perkiraan saya, karapan itu artinya balapan (hehe, akurasinya meragukan). Selain karapan sapi yang tersohor itu, ada juga karapan kelinci, karapan kambing, karapan orang (permainan), bahkan karapan kucing juga pernah diadakan! Aneh-aneh aja ya. Khusus karapan kucing gak populer dan gak akan kita temui lagi. Karena, yah….namanya juga kucing. Ketika disuruh balapan di track yang udah disediakan, mereka malah loncat keluar jalur. Walhasil lombanya gak selesai-selesai dan sulit mendapatkan pemenangnya. Daripada bikin emosi, akhirnya demi kebaikan bersama, kucing pun dicoret dari daftar binatang yang bisa di-karap. Begitu menurut keterangan salah satu warga pecinta Karapan di Bangkalan.

Kalau karapan kelinci, menurut sejarahnya mulai dikenalkan oleh para penggemar kelinci pada tahun 1990-an di Kabupaten Sampang. Binatang lucu ginuk-ginuk itu dipelihara dan dimontokkan dengan tujuan untuk diadu kecepatannya. Biasanya adu kelinci ini diadakan tiap minggu atau tiap bulan dengan berbagai hadiah semacem lomba panjat pinang. Narsum saya, mas Yanto, pernah menang dua kali. Dapat tv sama kompor gas.

Kelinci-kelinci ini juga dimanja dalam hal makanan dan asupan vitamin. Rutin dikasi jamu dan telor. Dan saat break syuting, saat si kelinci mulai kelelahan karena berlari, mas Yanto dan asistennya datang bergegas sambil membawa sebotol minuman. Pas saya lihat, ternyata yang mereka bawa adalah larutan cap kaki tiga. Saya kira hanya air putih biasa yang ditaruh di botol tersebut, ternyata emang beneran larutan cap kaki tiga asli. “Supaya gak panas dalam,” kata mas Yanto sambil mesem. Ooo…

Anyway, sebenarnya saya kasian juga sama kelinci-kelinci sok imut itu. Supaya larinya kencang, punggung atau telinga mereka dijepit dengan sesuatu. Tentu saja lari mereka yang udah kencang, jadi makin kencang karna kesakitan. Hiks.. Setelah karapan selesai, kelinci dielus-elus lagi. Disayang-sayang lagi. Dijamu lagi. Dikasi telor dan makanan bergisi lagi. Seminggu kemudian, dijepit lagi buat dibalap. Argh, kejamnya dunia. Ada semacam penyesalan yang saya paksakan. Kenapa saya mengambilnya jadi item liputan ya? Ya…sebenarnya terpaksa juga sih. Saya kan baru tau fakta itu saat sudah di lapangan. Sudah terlambat untuk mengganti obyek liputan. Lagipula, saya tidak memperlihatkan bagian itu di kamera untuk mencegah anak-anak berpikiran bahwa sah-sah saja “sedikit menyetimulus” binatang untuk mendapatkan efek yang manusia inginkan. Ya, ya, ini memang pembenaran. Saya setuju-setuju saja dengan karapan kelincinya. Tapi saya tidak setuju dengan penjepitan itu. Huh,, ;( 

Saat itu, saya masih belum ketemu dengan karapan sapi..

Sekian dulu… Kapan-kapan saya sambung lagi. Saya masih ingin cerita tentang Pak Slawi, cowboy Madura. Tentang Kraton Sumenep. Tentang Kuburan Raja-raja. Tentang nyamuk madura. Tentang liputan kebut-kebutan dengan hujan.  Tapi sekarang saya harus prepare untuk daerah selanjutnya; Bromo! How does it sound?? Huehehe…maklum, saya belum pernah ke Bromo. Kata banyak orang keren ya? Kata ibu saya sih biasa aja. Malah menurutnya gak terlalu asik, banyak debu, bikin kelilipan! hehe… Tapi musim hujan gini…  Duh, tolong doakan, semoga banyak keajaiban.

 

Simbol! Hati-hati! January 16, 2009

Filed under: ini, itu — safura @ 10:27 am
Tags:

Saya sedang tertarik pada simbol!

Berawal pada suatu malam, saat saya dalam perjalanan pulang, pak gamesh sms dan meminta saya untuk baca koran Pikiran Rakyat hari itu, Snen 24 Nov 2008, di halaman sekian (kolom “Teropong”). Ada artikel tentang design Makkah masa depan. Dan seperti biasa, dengan kalimat provokatif, dia menyuruh untuk melihat gambar dan simbol yang ada dengan teliti. Lihat lagi! Lihat lagi! Katanya. 

Awalnya, saya tidak peduli pada simbol seperti yang dihebohkan pak gamesh. Saya hanya tertarik pada bentuk rancangan dan siapa gerangan arsiteknya—sebab menyangkut kepercayaan saya terhadap valid-tidaknya info salah satu tokoh adat di Sumedang saat sedang liputan lalu. Info itu agak-agak berbau mistik, dan saya ingin membuktikan kalau dia salah. Seiring dengan googling di internet, saya lega karena info mistik itu memang tidak valid. Dan….ternyata temuan2 lain yang saya dapatkan juga sangat menarik!

Simbol itu biasa saja sebenarnya. Berbentuk bulan sabit. Sudah sangat akrab toh, dengan Islam? Sudah sering dipakai di bendera negara, di lambang partai, di sajadah, di atas kubah mesjid (bahkan di bangunan lama Masjidil Haram juga sudah ada sejak dulu!), tapi…saya yang mengaku umat Islam tidak tahu apa-apa tentang makna simbol itu. Tidak pernah berusaha mencari tahu. Hanya menerimanya dengan anggapan bahwa simbol itu pasti sudah ada sejak dahulu kala waktu masih jaman Rasulullah. Ternyata saya salah besar!

Waktu jaman Rasul, Islam tidak pernah menggunakan atribut bulan-bintang sebagai identitas agama. Sebutlah bendera. Dahulu kita hanya menggunakan satu warna solid saja sebagai bendera, yaitu putih, hitam, atau hijau. Warna hitam misalnya, digunakan saat berperang, dan warna hijau saat masa damai.

Lalu bulan sabitnya dimana?

Tidak ada.

Kalaw berdasarkan berbagai sumber yang saya dapat, asal muasal  bulan-bintang ini bermacam-macam. Versi pertama adalah saat Byzantium (atau Konstantinopel atau Istanbul) berada di bawah kekuasaan Dinasti Ottoman.

Jadi critanya, suatu malam Khalifah Utsman I bermimpi bahwa wilayah kekuasaan Islam di bawah dinastinya, akan membentang dari sisi bumi yang satu ke sisi bumi lainnya, yang kalau ditarik garis akan membentuk gambaran menyerupai bulan sabit. Maka dengan anggapan bahwa mimpi tersebut adalah pertanda baik, ia pun menyertakan gambar bulan sabit dalam bendera dinastinya. Sedangkan bintang di samping bulan sabit diduga melambangkan rukun Islam (dulunya ada lima gambar bintang, tapi sekarang cuma ada satu).

Kemudian, karena selama berabad-abad terjadi perang Salib antara umat Muslim di bawah dinasti Ottoman dengan bangsa Kristen Eropa, maka bendera Ottoman (atau sekarang jadi bendera Turki) tersebut pun diafiliasikan dengan Islam. Simbol bulan sabit dan bintang jadi identik dengan Islam, dengan segala hal yang berbau Islam. Sampai saat ini.

Begitulah cerita dari versi pertama.

Sedangkan versi kedua, kalau ditelusuri dari segi historis sekaligus semiotik (duile…bahasanya), simbol bulan sabit ini sebenarnya sudah ada sejak jaman duluuuuu banget. Jauh. Baratus-ratus tahun sebelum kedatangan Islam, bahkan. Masa-masa ketika paganisme masih tumbuh subur di muka bumi. Simbol ini banyak digunakan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tengah dan Siberia yang menyembah dewa matahari, bulan, dan bintang. Tidak ketinggalan juara penyembah berhala yaitu kaum Yunani kuno yang memiliki seabreg dewa-dewi, juga menggunakan simbol ini. Mereka menisbahkan simbol bulan sabit untuk dewi bulan (yaiyalah bulan untuk dewi bulan) atau lebih ngetop dengan nama Dewi Diana atau Dewi Artemis yang pasti bukan dewi persik. Sedangkan bintang, mewakili Dewi Ishtar. Bagus juga ya namanya. Konon, kata star dalam bahasa Inggris diambil dari nama ini. Nah kota Byzantium yang saat itu masih pagan, memakai lambang bulan untuk menghormati Dewi Artemis.

Berarti kalau ditinjau dari versi yang kedua, sebenarnya saat Dinasti Ottoman datang dan menguasai wilayah tersebut, simbol ini sudah ada dan sudah populer duluan. Dengan kata lain, cerita tentang mimpi sang Khalifah tentang bulan sabit itu masih harus diteliti lagi keabsahannya, karena bisa jadi cuma legenda. Dengan kata lain lagi……..Jreeeeng……..  Berarti selama ini kita mengadaptasi simbol-simbol dari dunia pagan?? Iya kah?

Mungkin kita berpikiran tak jadi soal simbol bulan-bintang itu berasal dari mana dan bermakna apa. Toh pemaknaan simbol itu bisa tergantung dari interpretasi masing-masing pemaknanya. Bersifat arbitrer dalam bahasa kerennya. Ini kata artikel tentang semiotik yang saya baca ya. Akan tetapi saudara, simbol, secara tak sadar juga bisa mempengaruhi dan menggiring pola pikir kita mengikuti si pencipta simbol.

Contoh sederhananya adalah film-film keluaran Hollywood, terlebih di era 80-90an dulu—meskipun sekarang juga masih sih. Coba perhatikan deh, gak film remaja, gak dewasa, gak action, gak drama, pokoknya segala genre, mereka selalu menampilkan atribut Amrik, seperti bendera. Meskipun bendera itu cuma numpang lewat, cuma jadi stiker, cuma sebagai tato, cuma sedetik dua detik sebagai intercut, tapi pasti ada. Dan tanpa disadari, hal ini menumbuhkan rasa nasionalis pada rakyatnya. Memang terlalu naif kalau menuduh hal kecil tersebut bisa menjadi pembangkit nasionalisme bagi bangsa sebesar Amrik (besar dalam arti harfiah luas wilayah dan banyak penduduk ya). Banyak faktor lain tentu saja. Tapi penggunaan simbol-simbol secara tersirat dan tidak vulgar itulah yang justru cepat merasuk ke alam bawah sadar sehingga penonton menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Tidak seperti doktrin P4, misalnya. Hanya dihafal, tapi tidak tepat sasaran. Disuruh membaca tiap hari, tapi tak juga jadi nasionalis. Kenapa? Mungkin karena caranya yang tidak menyenangkan dan bersifat paksaan. Jadi hanya menyentuh kulit ari dan mudah terkikis jaman. Berbeda dengan cara dari Holiwud tadi. Menyenangkan, halus tidak terasa, tapi tertanam kuat.

Seperti itu pulalah mereka menginjeksi budayanya hingga sebagian masyarakat dunia banyak yang tersihir dan tanpa sadar jadi berkiblat pada budaya Amrik. Termasuk saya dalam beberapa hal (seperti musik, atau film, atau makanan, dan lain-lain. Bah!) Jadi, jangan anggap remeh sebuah simbol.

Balik lagi pada bulan sabit. Simbol bulan sabit seperti apakah yang ada dalam design baru Masjidil Haram tersebut?

Menghadap ke atas, seperti tanduk.

Sejak awal, saya sudah curiga dan mengasosiasikannya dengan Yahudi. Siapa lagi di jaman sekarang ini yang begitu terobsesi menguasai dunia dengan menggunakan segala cara?? Sama seperti jutaan orang lainnya, saya adalah pembenci Yahudi sampai ke seluruh aliran nadi-nadi saya. Terlebih setelah peristiwa serangan ke Palestina kemaren. Meskipun…sebenarnya saya juga mengagumi mereka. Saya salut dengan segala bentuk kecerdasan dan bahkan kekejaman mereka dalam mencapai tujuannya. Huh…!

Dan kalau mau memaksakan diri memandang adil pada mereka, tidak semua Yahudi penjahat. Selain memang gak bermoral, kejam, garong, teroris, terkutuk, ada juga sih kaum Yahudi yang baik—meski yang baik ini jumlahnya pasti cuma sedikit. Hah. Secara global sebenarnya Yahudi terbagi menjadi dua. Yahudi ortodoks, yang berpegang pada Taurat dan tidak setuju dengan invasi Israel ke Palestina. Dan Yahudi zionis, penginvasi Palestina dan sekitarnya, perusuh di segala bidang kehidupan, kitab sucinya adalah Talmud (taurat versi klenik buatan mereka), yang di dalamnya bertebaran berhala dan simbol para dewa-dewi yang hidup di jaman pagan. Termasuk bulan.

Jadi jika penilaian kita berangkat dari simbol-simbol kaum pagan yang bertebaran dalam ‘agama’ zionis tadi, maka hubungan antara gambar bulan sabit dalam design Ka’bah dengan zionis dan motivasinya ingin menguasai dunia jadi masuk akal. Apalagi menara tempat bulan sabit itu bertengger dibuat beratus kali lipat lebih tinggi dari Ka’bah. Aneh banget kan. Ngeri dan tak rela juga kalo agama kita disusupi simbol-simbol pagan.

Apalagi, rancangan design itu memang riil. Masjidil Haram sedang berbenah besar-besaran untuk tahun 2010 (dan tujuan jangka panjangnya tahun 2020). Di sekitar mesjid nanti akan berdiri hotel-hotel canggih, rumah sakit, bahkan mall super mewah. Tentu saja pembangunan ini akan membawa banyak kemudahan dan kenyamanan bagi para jemaah haji di masa yang akan datang. Saat cuaca sedang panas, jamaah bisa ngadem dulu sambil nge-mall. Hehe…kedengarannya aneh ya. Mau haji kok malah jalan-jalan? Apa betul semata-mata kemudahan dan kenyamanan para jamaah yang diutamakan? 

They will see something other than the stark black cube known as the Kaa’ba, which is literally the center of the Muslim world. They will also see lots of clothing stores. “Makkah will have all my favourite clothing stores and I wont have to haul them all the way from Jordan”.(baca disini)

Bayangkan keuntungan yang didapat para kapitalis dari kompleks pertokoan ini! Gak usah jauh-jauh dulu berpikir bahwa salah satu tanda kiamat seperti yang dikatakan Rasul adalah berlomba-lomba membangun tempat ibadah secara bermegah-megahan. Gak usah dulu sebel tentang gak masuk akalnya sikap bermewah-mewahan Raja Saudi menggelontorkan dana untuk merombak Masjidil Haram, sementara dia sama sekali tak peduli pada Masjid Aqsha di Palestina yang sedang sekarat! Bila memang hedonis dan konsumtif yang diusung, kita tentu bisa menebak siapa yang ada di belakangnya.

Bisa jadi, hubungan antara simbol bulan sabit dengan zionis memang ada. Dan jika memang betul demikian, maka benang merah zionis lah yang ada di balik berbagai skenario saat ini. Dengan menyusupkan ide tentang kenyamanan dan kesan modern yang bisa ditampilkan The New Masjidil Haram, sebenarnya mereka sedang menjauhkan umat Islam dari esensi zuhud dalam beribadah. Menanamkan benih-benih kapitalisme dan meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan kedatangan ribuan jamaah haji setiap tahunnya. Menjauhkan umat Islam dari kepekaan terhadap penderitaan yang sedang dialami saudaranya di belahan bumi yang lain. Mengalihkan perhatian umat Islam dari nasib kiblatnya yang pertama, Al-Aqsha yang saat ini sedang diincar bom Israel. Bayangkan ketelitian mereka dalam menempatkan timing. Dahsyat sebenarnya. Dan itu, saudara, sanggup terwakili hanya dalam satu buah simbol saja…

Mudah-mudahan saja saya salah. Mudah-mudahan saja simbol bulan sabit di menara raksasanya tidak bermakna apa-apa selain hiasan belaka. Mudah-mudahan saja perluasan Masjidil Haram hanya akan membawa dampak kebaikan untuk jamaah haji. Mudah-mudahan saja rumus kapitalisme tidak berlaku disini. Dan mudah-mudahan saja zionis ataupun kepaganan tidak ada kaitannya sama sekali dengan simbol bulan sabit manapun di mesjid-mesjid kita.

Hmm…capek juga. Sebenarnya masih banyak hal menarik yang ingin saya ceritakan tentang simbol. Tentang simbol-simbol pagan yang juga diduga menyusupi agama Nasrani. Tentang sejarah asal-muasal balas dendam Yahudi-Zionis  terhadap dunia. Nanti kalau ada waktu, saya juga ingin membahasnya disini.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya saya sendiri sukaaa sekali memandangi bulan sabit beneran yang ada di langit malam. Saya lebih menyukainya ketimbang bulan purnama. Menurut saya bulan sabit lebih memikat. Mengingatkan saya pada mata keponakan saya kalau sedang tertawa penuh. Matanya membentuk bulan sabit terbalik, menghadap ke bawah. Cantik sekali. Seperti tantenya :D  

 *dari berbagai sumber*

Silahlan baca juga di sini, menarik!

 

 

celebrate this LOVE January 2, 2009

Filed under: ini — safura @ 2:21 pm

“Kenapa, Bang?” tanya perempuan itu lagi.

“Kenapa kau tinggalkan kami berdua disini?”

Lelaki-nya masih diam tak menjawab.

“Kenapa kau tega meninggalkan kami berdua di tanah tandus ini?? Tidak ada satu orang pun disini, Bang. Tidak ada air, tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Kami bisa mati disini. Tak sayang kah kau pada kami??”

Lelaki itu tetap diam. Sepertinya dia memang tipe laki-laki yang kurang ekspresif mengungkapkan perasaannya.

Perempuan itu memandangnya dengan perasaan campur aduk. Tega benar suaminya itu! Sudah tau tanah disini gersang. Tidak ada air. Tidak ada tumbuhan yang berbuah. Dan jangankan mencari pasar untuk membeli makanan, tempat ini bahkan tidak berpenghuni! Maksudnya apa meninggalkan kami disini? Maunya apa sih?? Istrinya melontarkan sejuta tanya melalui kedua matanya.

Suaminya masih membisu. Dia tahu keputusannya nampak tak masuk akal. Meninggalkan istri dan anak yang masih merah di tanah gersang. Dia ingin menenangkan istrinya. Ingin sekali.

Sang istri sebenarnya tahu kalau suaminya seorang yang ksatria dan bertanggung jawab. Tapi kenapa sekarang bertindak tidak wajar begini..?

Sang suami masih memandangnya dengan perasaan teramat sayang sekaligus ingin memberi kekuatan.

Ah…aku tau…tiba-tiba batin istrinya seperti disinari cahaya.

“Apakah Allah, Diakah Bang, yang memerintahkanmu berbuat ini?” tanyanya.

Sang suami tersenyum lega, isterinya paham juga.

“Ya,” akhirnya mulut yang mulia itu menjawab. Seolah-olah diamnya tadi memang sedang menunggu pertanyaan itu terlontar dari istrinya.

“Kalau begitu pergilah, Bang. Tidak apa-apa. Kalau memang Allah yang memerintahkanmu berbuat ini, Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kami berdua. “

Sang lelaki plong bukan buatan. Hatinya jadi tenang. Istrinya memang bukan wanita sembarangan.

“Pergilah… Jangan khawatirkan aku dan Ismailmu. Allah sendiri nanti yang akan mengurus kami.”

Waw, perempuan dahsyat…

Drama teragung dalam sejarah manusia tentang pengorbanan ayah-anak terhadap Tuhannya, tentang kesabaran Ismail menyerahkan kepalanya demi memenuhi perintah Allah, berawal dari perempuan ini. Berawal dari didikan perempuan dahsyat ini. Siti Hajar.

Kita tentu tahu dari sejarah, bahwa sepeninggal Ibrahim kembali ke Palestina, Siti Hajar harus pontang-panting bertahan hidup di Makkah, tanah tandus yang belum berpenghuni. Ia berjuang pertama-tama adalah untuk bayinya yang sedang kehausan. Dia berlarian mendaki dan menuruni bukit dari Shafa ke Marwah untuk mencari sesuatu yang bisa diminumkan pada Ismail bayi, sebab saat itu ASInya pun macet saking kerontangnya kondisi tubuhnya. Kebayang gak sih, gimana panasnya Makkah saat itu. Hiii…

Kita juga tahu, bahwa setelah pontang-panting itu, Allah menghadiahinya air zam-zam, mata air kebaikan yang terus mengalir hingga ribuan tahun sesudahnya. Hingga kini. Meski berjuta-juta, beratus-ratus juta atau bahkan miliaran orang yang mengunjungi Ka’bah sejak dulu hingga saat ini mengambilnya, tapi setetespun air itu tidak surut. Zam-zam, sesungguhnya adalah salah satu hadiah dariNya untuk segenap manusia, yang diberikan lewat perantaraan Siti Hajar dan kaki Ismail.

Setelah itu Hajar dan Ismail pun terus berjuang bertahan hidup. Hingga bertahun-tahun sesudahnya. Seperti keyakinan Hajar, Allah sendiri yang menjaga mereka. Allah mengirimkan buah-buahan, mengirimkan keteduhan, mengirimkan manusia-manusia lain yang kemudian membentuk sistem masyarakat di Makkah. Allah menurunkan perlindunganNya terhadap mereka.

14 tahun kemudian…

Ibrahim, ayah yang soleh itu, yang tidak terlalu ekspresif namun sangat mencintai keluarganya itu, yang meski meninggalkan mereka belasan tahun, namun tak pernah sesaat pun berhenti mendaraskan doa-doa untuk anak-istri yang ditinggalkannya itu (Quran surat Ibrahim/15: dari ayat 35 s/d 41), akhirnya kembali lagi. Bukan untuk menjemput, bukan untuk menetap. Allah telah menyiapkan tugas lain untuk Ibrahim meski saat itu beliau belum mengetahuinya. Waw, berat banget ya, menjadi nabi…

Tentu saja, perjumpaan keluarga kecil itu berlangsung haru. Bayangin aja sih, 14 tahun gak ketemu pasti kangen berats! Apalagi saat itu tak ada telpon, surat kawat, pager, hape, apalagi internet. Pastinya setiap waktu yang berlalu gak ingin disia-siakan. Diisi dengan saling cerita, bercanda, beramal-ibadah bersama, ingin membayar hutang alpa selama belasan tahun.

Hingga suatu saat….yah, situ pasti sudah bisa menebak, datanglah wahyu Allah melalui mimpi Ibrahim. Wahyu legendaris itu. Wahyu yang pastinya amat sangat berat bagi seorang ayah yang penyayang. Jangankan yang belasan tahun pergi, yang setiap harinya ketemu aja pasti rasanya mustahil untuk melaksanakan perintah itu. Menyembelih anaknya! Anak lelaki pertamanya. Putra mahkotanya.

Huhuu… Padahal, penantian Ibrahim ingin punya anak gak sebentar. Gak setahun dua tahun. Gak sembilan atau bahkan dua belas tahun seperti salah satu tetangga saya di Jember dulu. Nabi Ibrahim menantinya selama berpuluh-puluh tahun cuy! (biar terdengar gaul cuy, critanya) Berpuluh-puluh tahun barulah Allah memberinya anak melalui istri keduanya tersebut. Dari istri pertamanya, Siti Sarah, akhirnya Allah juga memberinya putra. Tapi untuk saat ini, kita pokus pada cerita Ibrahim-Ismail dulu yah.

Awalnya Ibrahim belum sepenuhnya yakin, apakah mimpinya menyembelih Ismail benar-benar wahyu ataukah hanya bunga-tidur belaka. Namun ketika ternyata 3 malam berturut-turut ia bermimpi hal yang sama dan keyakinannya makin kuat bahwa itu memang wahyu Allah, maka ia pun mau tak mau harus mau melaksanakan perintah tersebut. Eh, tapi kalo nabi pastinya melaksanakan wahyu dengan segenap hati ya. Memangnya kita…eh, saya.

Ibrahim ini saudara, rupanya tipe ayah yang demokratis. Ia tahu, sepenuhnya tahu, bahwa jika sudah merupakan perintah Allah, maka ia akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Tidak akan ada penolakan. Tidak akan ada kata enggan. Apalagi untuk nabi sekaliber Ibrahim—meskipun kita juga gak boleh ngebeda-bedain nabi sih. Untukmu ya Allah, aku dengar dan aku taat. Tapi rupanya dia gak langsung main jagal ey! Dia ngajak anaknya untuk ngobrol dulu. Dengarlah saat ia bertanya pada Ismail,

Wahai anakku, sesungguhnya Ayah menerima wahyu dari Allah. Maaf ya nak, tapi isi wahyu ini sangat berat. Bukan sekedar perintah untuk mengirimmu ke pesantren, tapi perintah untuk menyembelihmu. Ayah pengen tahu, katakanlah pada Ayah bagaimana pendapatmu?

(Redaksional resmi dari Quran: Tatkala putra itu sudah balig dan telah sanggup membantu bekerja, berkatalah (Ibrahim): Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapatmu mengenai hal ini…..Q.S: 37:102)

Lalu bagaimana reaksi Ismail? Marahkah dia? Ngambul kah dia? Mogok makan kah dia? Ngomel-ngomelkah dia? Mencaci maki ayahnya tidak waras kah dia? Membantah Allah dan menjadi atheis kah dia?

Dengar ini, saudara. ABG tampan dan soleh itu menjawab, tanpa ragu-ragu menjawab, “Kalau memang itu sudah perintah Allah, wahai Ayahku, silahkan engkau laksanakan saja. Apapun itu, aku akan terima. Insya Allah Ayah akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

Kerweeen…! Anak seumuran itu bisa menjawab begitu. Ibu macam apa yang telah mendidiknya? Pasti dahsyat.

(Redaksional resmi dari Quran: Berkata (Isma’il): Hai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapati aku, insya Allah, termasuk golongan orang yang sabar. Q.S: 37:102)

Ibrahim terharu, tapi jadi makin kuat untuk menunaikan perintah Allah. Anaknya sehati dengannya. Pasti dia bahagia sekaligus nestapa pada saat yang bersamaan. Tapi dia juga sadar bahwa dunia dan isinya (termasuk anaknya) adalah milik Allah. Cintanya pada Allah telah menguatkan tekadnya.

Maka, diajaklah Ismail ke tempat yang dirasa sesuai wahyunya untuk menyembelih. Namun sebelumnya telah diasahnya pisau yang akan dia gunakan untuk memotong urat nadi Ismail. Diasahnya tajam-tajam. Harus sangat tajam, agar Ismail tak perlu berlama-lama merasa sakit. Ah, begitu cintanya…

Dikisahkan, saat dalam perjalanan, dia sempat digoda syaitan untuk mengurungkan misi sucinya. Dan setiap diganggu itu pula, Ibrahim melempari syetan penggoda tersebut dengan batu. Inilah yang kemudian menjadi ritual melempar jumroh dalam ibadah haji.

Nah, akhirnya sampailah mereka berdua di atas bukit. Dibaringkannya ismail pada sebuah tempat (mungkin batu yang besar). Namun saat melihat raut muka kesayangannya itu, hatinya terasa galau. Perkiraan saya sih, beliau tidak tega (yaeyalah….!!)

Lalu apa kata Ismail?

“Ayahanda, sebaiknya Ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah. Selain itu, tanggalkan saja pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibu bila melihatnya. Dan tutuplah mataku dengan kain. Sebab kalau kau menatap mataku, aku khawatir kau akan bimbang untuk melaksanakan perintah Allah.”

Aduh duh…nak, kamu kok soleh banget.

Ayahnya makin terharu. Ia lalu menyanggupi permintaan anaknya, dan mengikat mata anaknya dengan kain.

Tapi setelah itu dia masih tidak tega. Air mata mengambang di pelupuk mata.

Ismail yang meski matanya ditutup masih bisa membaca perasaan Ayahnya, berkata lagi.

“Wahai Ayah, sebaiknya engkau balikkan saja tubuhku agar tidak berbaring telentang seperti ini. Agar kau tidak melihat wajahku dan menjadi bimbang lagi karenanya.”

Ibrahim menuruti kemauan anaknya dan kembali meneguhkan jiwa. Laki-laki mulia nan keren itu yakin, Allah pasti punya maksud lain di balik perintah ini. Pasti itu. Dan maksud yang bersumber dari Pemilik kebaikan, ia yakin tidak akan salah.

Maka dengan kemantapan iman, sambil berlinangan air mata, ia bersiap menyembelih leher anaknya…

“Lihatlah ini ya Allah….Inilah bukti kecintaanku padaMu. Inilah anakku yang pertama-, yang aku tunggu-tunggu kehadirannya selama berpuluh-puluh tahun. Yang saat ia masih bayi merah Engkau memintaku meninggalkannya di padang tandus, aku menurutinya. Engkau menyuruhku pergi meninggalkan ia, aku menurutinya. Belasan tahun aku tak di sampingnya dan melewatkan banyak momen bersamanya. Saat aku kembali, ia sudah jadi remaja tampan yang soleh. Betapa tak habis rasa syukurku karenanya ya Allah… betapa pemurahnya Engkau padaku. Dan kini, saat rindu itu belum lunas, saat rasa sayang itu baru sampai pada puncaknya, Engkau menyuruhku menyembelihnya. Menyembelih kesayanganku ini dengan tanganku sendiri. Dan lihatlah ini ya Allah… aku pun menurutinya. Aku menurutinya karenaMu, ya Allah…!”

Pisau itu sudah menyentuh leher Ismail saat Allah tiba-tiba berfirman… **

”…Wahai Ibrahim… Sesungguhnnya engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata…” (QS: 37: 104-106)

Allah mengatakan pada Ibrahim bahwa Ibrahim telah membenarkan wahyuNya. Ibrahim telah melaksanakan permintaanNya, meskipun itu harus membenamkan dulu rasa kecintaannya yang teramat sangat pada anaknya. Sebenarnya tujuan Allah mewahyukan hal itu bukan untuk menyuruh Ibrahim berbuat kejam, barbar pada anaknya sendiri. Tapi wahai Ibrahim, ayah para nabi, ayah yang sangat soleh, ayah yang sangat perhatian pada generasi penerusnya, Allah mewahyukan hal tersebut agar Ibrahim menyembelih rasa cintanya yang hampir berlebihan pada Ismail. Allah menyuruhnnya agar cintanya yang meluap-luap pada Ismail tidak menjadikan ia lupa pada Tuhannya.

Karena itu, sebagai balasan dari ketundukan, keikhlasan, dan kesabaran Ibrahim-Ismail, Allah mengganti Ismail dengan kurban yang besar. Yaitu domba yang gemuk. Inipun merupakan perlambang. Bukan dombanya, bukan gemuknya, bukan mahalnya, tapi keikhlasan kita untuk menyerahkan apa yang terbaik dari kita, apa yang sangat kita cintai, kepada Dia Pemilik semua.

Karena itulah hari raya Idul Adha sering disebut sebagai hari raya besar bagi umat Islam. Ritual thawaf, sa’i, lempar jumroh, wuquf adalah penggambaran rasa pengorbanan, keikhlasan, keyakinan, ketundukan, kepasrahan, semuanya bercampur jadi satu yang kemudian diabadikan oleh Allah dalam ritual ibadah haji. Mungkin salah satu tujuannya agar manusia selalu ingat akan kisah itu. Kisah cinta manusia kepada Tuhannya.

Allahu Akbar walillaahilhamd.

Selamat hari raya idul adha.

Jakarta, 7 desember 2008

Mencomot dari berbagai sumber, diantaranya: Al Quran, internet, dan cerita para ustadz. Mohon dimaklumi kalau menemukan perbedaan versi dengan yang pernah Anda ketahui.

** Dalam versi lain diceritakan, saat Ismail sudah dibaringkan, Ibrahim sebenarnya sudah mencoba menyembelih Ismail, namun parangnya menjadi tumpul. Lalu, karena Ismail mengira ayahnya tidak tega, ia pun mememinta ditelungkupkan. Tetapi saat parang yang sudah diasah tajam-tajam itu diletakkan di leher belakang Ismail, ia kembali menjadi tumpul. Lalu datanglah firman Allah tersebut….

Sedikit-sedikit saya jadi tahu, mengapa dalam sholawat nabi versi lengkap, setiap mendoakan kebaikan bagi nabi Muhammad, selalu disambung dengan kata-kata “seperti yang telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim…” Karena ternyata keluarga tersebut memang dahsyat.

 

apocalypse November 25, 2008

Filed under: ini, itu — safura @ 4:02 pm

this heartbeat

we can’t even explain

and as the dawn comes

i’m lost.

where are thou, darling?

i’m losing your shout.

i’m lost

i’m lost

i guess i miss you a lot.

 

i am mine November 20, 2008

Filed under: ini, itu — safura @ 3:52 pm

“i know i was born and i know that i’ll die

the in between is mine

i am mine”

 

hidung November 20, 2008

Filed under: itu — safura @ 3:29 pm

akhir-akhir ini, tanpa melirik ke bawah, saya bisa melihat bayangan hidung saya sendiri.

kirain ada noda, atau upil yang nangkring di sana.

tapi pas ngaca, ternyata gak kenapa2 tuh.

hm….saya semakin mancung atau apa ya?

atau area penglihatan mata saya semakin melebar?

kenapa tidak melebar 360 derajat saja ya? jadi saya bisa melihat orang yang ada di belakang saya.

tapi serem ah.

ini tulisan kok gak penting banget sih.

 

ultah November 20, 2008

Filed under: ini, itu — safura @ 3:23 pm

I hate(d) birthday.

Sejak kapan ya? Saya juga lupa. Yang pasti saat masih kecil saya hepi-hepi aja kalo lagi ulang tahun.

Tapi pas udah tua  menginjak remaja gini saya merasa aneh. Tiap kali ulangtahun, saya ingin selalu melompatinya dan langsung maju ke hari berikutnya. Entahlah, saya takut kalau orang-orang di sekitar saya ingat dan mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Hehe..ge-er. Tapi kenyataannya, saya memang justru merasa lega kalau mereka lupa dan gak bilang apa-apa.

i hate(d) birthday.

Tapi hari ini agak berbeda.

Dimulai dengan ketiduran semalem, lagi males ngapa-ngapain. Baru pulang dari taman anggrek. Masih pake seragam, belum sholat, belum makan, belum bersih-bersih. Abis smsan sama Reni, teman smp saya, tau-tau ketiduran aja.

Begitu bangun…HADUH! belum isya!! Udah jam brapa ini???? Udah pagi jangan-jangan??!!

Pas ngeliat hp, ternyata jam setengah 3. Hahh…slamet2…

Lho, ada 4 new messages juga di inbox.

2 delivery reports dan 2 pesan.

Ada nama ilham, salah satu sahabat saya, campers maut di bolang :p

Akhir-akhir ini saya jarang berhubungan dengan dia. Ada apa ya?

Pas dibuka, ternyata ngucapin selamat ulang tahun. Hari ini ulang tahun saya gitu?

Saya langsung terharu.

Lho kok terharu? Katanya gak suka hari ulangtahun?

Itulah saya juga heran. Tapi kalau kamu pernah mengalami kegopohan bangun dari tidur, gak inget apapun selain mengira kalo udah subuh, ternyata di suatu tempat sana, teman yang kamu kira sudah gak care lagi, ternyata ingat kalo tanggal ini adalah tanggal kelahiranmu, dan mau bela-belain sms di pagi buta untuk mengucapkan selamat dan mendoakan yang baik-baik untukmu. Mungkin itu bisa membuat siapa saja merasa terharu.

Ya Allah, terima kasih ya. rika terharu nih. Huh, dasar sentimentil.

Tengkyu ya Am, my bro.

Lalu saya baru ngeh dengan nama yang kedua: Vira. Tadinya gak sadar kalo vira adalah temennya irma—temen kos di batu api pas jaman kuliah dulu. Dan ketika saya baca smsnya, eh…ternyata dia juga ngucapin selamat ultah buat saya. Dan doanya juga indah.

Ya ampun gak nyangka, dia masih inget aja. Padahal kan sudah puluhan tahun berlalu.. Oh iya, jangan ge-er dulu, soalnya tanggal lahir kami bersebelahan sih. Dan saya agak lupa, dia tanggal 7 atau tanggal 9 ya?? Ah, tanggal yang mana saja yang penting besok saya akan memberinya selamat.

Dan bagi saya, doa orang2 ini di pagi buta adalah kado yang sangat indah dari Allah.

Kado? Yakin, kado?

Kado kan untuk orang-orang yang berbuat baik.

Berarti teguran?

“Terkadang Allah menegur dengan sangat sopan”

Oh, Allah sudah membuat saya malu..

 

Setelah pagi, datanglah sms-sms lain bernada kuranglebih sama. Saya merasa aneh lagi. Tapi di sisi lain, saya juga senang dengan doa-doa yang diucapkan. Yang paling panjang adalah dari ibu. Ya ampun ibu…huhuu…. maafkan anakmu ini! Doa ibu untuk saya sangat indah. Saya gak nyangka akan ada kalimat, “ibu gak pernah bosan-bosannya meminta sama Allah agar…blablablablabla….”

Jadi…jadi bu…ja…ja..jadi…jadi….jadi selama ini ibu selalu mendoakanku dengan doa-doa indah semacam itu??

Saya langsung teringat ucapan Mamat, teman lama saya yang rada sableng tapi kadang-kadang omongannya kayak ustadz. Waktu kemarin saya nyaris gak bisa mudik, dia memberi petuah pada saya seputar topik malin kundang.

“Kamu tau kenapa kita gak boleh durhaka sama orang tua?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Karena orangtua selalu mendoakan kebaikan buat anaknya. Meskipun mungkin hanya ‘mbatin’, tapi pasti yang diminta adalah yang baik-baik saja buat kita. (Betul, saya membuktikannya sendiri hari ini!) Gak pernah orang tua minta yang jelek buat anaknya. Yaaah……..kecuali orangtua gendeng.”

Betul.

 

Hari ini, saya juga memutuskan untuk tidak ke kantor karna saya harus menyervis barang yang rusak di suatu tempat bernama buah-buahan dan angka dua.

Apalagi, saya juga ada janji dengan teman saya dari Mataram yang bernama prima. Jadi sekalian saja libur. Hehehe. Maaf pak, bu, saya bolos dulu. Itung-itung kompensasi kerja rodi saya selama 12 tahun ini..

Oia, prima ini adalah salah satu teman yang berjasa membawa saya pada info unik tentang Sembalun—salah satu desa di kaki Gunung Rinjani. Saya merasa hutang supri padanya. Nah, Mas Supri itu lain lagi, dia temannya Prima yang menjadi ‘ranger’ Rinjani. Dialah yang memberitau saya info tentang adanya pemangggilan sapi liar yang keren itu.

Tapi…..saya mengenal Prima itupun dari Afri. Jadi sebenarnya saya ini hutang pada siapa?? Pada Afri, Mas Supri, atau pada Prima? Atau pada Pak er-te Sembalun? Sudahlah. Yang pasti, hari ini saya gembira bersama Prima. Bukan perasaan berbunga-bunga karena cinta lho! Soalnya Prima juga sudah beristeri dan beranak dua (hehe, boong deng. Prima bisa marah karena saya merusak pasarannya). Sebabnya adalah, karna lamanya waktu servis, jarak tempuh kendaraan, dan faktor macet, jadi aja saya menghabiskan hari bersama teman yang sama sekali tidak tahu ataupun curiga kalau hari ini hari ulangtahun saya! (yaiyalah, ngapain juga musti curiga??) Ahaha. Senangnya!!

Padahal kalo dipikir-pikir, dimana letak kesenangannya ya? Dan dimana letak alasan rasionalnya sehingga saya membenci hari ulangtahun? Mungkin jawabannya adalah yang datang di pertigaan hari, saat teman kantor saya si Endong-reporter-handal dan mbak Dini menelpon. Ternyata mereka tau kalau hari ini saya ulangtahun dan mereka menagih, apalagi kalau bukan traktiran! Ah, kalian ini tetap saja tak berubah (huehehe). Sabar teman, nanti saja ya kalau saya sudah kaya.

Pada akhirnya, saya masih tidak terlalu suka hari ulangtahun. Tapi saya suka, sukaaa sekali diberi kado.

Akhir kata, trimakasih ya bu, sudah mau melahirkan aku..

(catatan waktu ultah)

 

 

sms siapa? November 4, 2008

Filed under: itu — safura @ 6:41 pm

Hai ka. Ini aku kakaknya bolga dari uhaimate. Kirimkan aku pulsa ya kak. Aku tidak punya pulsa. Balas ya kak..

Tercatat di hape saya, nama pengirimnya adalah uhaimate.

Maaf ya, saya juga lagi fakir pulsa, batin saya. Ada sedikit kenangan tidak menyenangkan tentang pengirim sms ini.

Uhaimate adalah salah satu dusun yang pernah saya datangi saat liputan di propinsi Sulawesi Barat.

Seseorang pemilik nama uhaimate di hp saya itu, saya ingat betul, adalah seorang bapak dari salah satu bolang, yang sempat meragukan kalo saya dan teman saya (waktu itu beni) benar-benar resmi dari tivi tempat saya bekerja (mungkin dikira tukang culik anak).

Saya juga ingat, si bapak itu berambisi jadi kepala desa, dan—maaf ya pak—entah mengapa saya agak tidak bersimpati pada gayanya.

Makanya, namanya pun tidak saya ingat-ingat. Dan ketika dia memberi no hape, saya hanya beri nama : uhaimate.

Masak, dulu pernah nih malam-malam sekali, nomor itu menelepon. Untungnya pas saya lagi insomnia. Nah, si bapak ngobrolnya gak jelas gitu. Pokoknya obrolan yang tidak penting lah… Saya malas-malasan menanggapi, hanya menjawab seperlunya saja demi kesopanan terhadap narsum.

Keesokan harinya, pas saya lagi mau menelpon, tiba-tiba mbak operator bilang kalo pulsa saya tidak cukup buat nelpon. Lah, how come???! Perasaan saya baru ngisi pulsa deh! Pas saya cerita ke teman, dia bilang mungkin ada orang iseng ‘nyatut’ pulsa saya, yang modus operandinya adalah dengan menelepon!

Jreeng…. Dan tersangka utama dalam benak suudzon saya adalah nama “uhaimate”.

Sejak itu saya berjanji, kalo ada nomor itu menelepon, saya tidak akan mau mengangkatnya lagi. Trauma.

Tak lama kemudian, datang sms lagi.

Ini adalah layanan telkomsel call me. Pelanggan 08 sekian sekian meminta anda menghubunginya..

Hyaa…nomor itu lagi!

Huh, biarin ah. Pura-pura gak baca.

Btw, kadang-kadang, saya juga suka menerima sms bernada sama dari mantan bolang-bolang saya (duile, “bolang saya”). Tapi kalo sama yang lain, saya tidak pernah sebal seperti ketika saya menerima sms dari uhaimate tadi. Kadang-kadang sms mereka singkat saja:

Kak, minta pulsa.

Kalo lagi baik saya balas sms. Atau saya balas menelepon kalo saya memang lagi kangen pada mereka. Tapi tetap tidak pernah saya kirimi pulsa. Huehehe. Lagian kecil-kecil buat apa sih pulsa? Hada2 ajah!

Pernah juga ada sms begini:

Tante, sedang dimana? Kalau boleh, saya minta oleh-oleh. Ini alamat saya di ambon: …. Kalau tante jadi kirim, lewat pos saja ya.

Hihi…

Tapi ada juga lho tipe sms yang membuat saya mengharu-biru. Seperti yang ini misalnya:

Kaka rika, pian baik-baik sajakah? Dimana kaka sekarang?

Aduh, sayangkyu..kamu lucu sekali!

Atau yang ini, datang pagi-pagi sekali saat saya baru bangun tidur:

Kak rika, pa khabarx kak ( tipe anak gaul: nya- nya pake ‘x’), knp ka2 tdk pernah lagi sms kami. Kak, kami rindu pada ka2. by jacky sibolang.

So sweet gak seeh.. (bahasa gaul juga critanya, cuih..). Langsung saja saya balas kalo saya juga rindu pada mereka.

Tak lama kemudian, datang lagi balasannya:

Iya, ka, kami sudah rindu suting si bolang.

Yeee…ternyata bukan rindu padaku, tapi rindu disorot kamera! Ah dasar banci tampil…

 

kutipan October 30, 2008

Filed under: itu — safura @ 1:54 pm
Sepasang kekasih tidak bertemu pada suatu masa. Mereka sudah berada dalam diri pasangannya masing-masing sejak lama.

–Rumi

 

recently. September 22, 2008

Filed under: ini — safura @ 7:24 am

ya Allah,

trima kasih yaaaaa……………………..!

^_____________________________^