Masak yuk! ;)
Saya ingat, waktu hari-hari pertama menempati kontrakan kami di Ciledug, saya berniat memasak nasi menggunakan magic jar. Sebenarnya itu bukan kali pertama saya memasak nasi menggunakan magic jar. Dan saya rasa, karena caranya yang simpel, semua orang bisa dengan mudah melakukannya. Masukkan beras dalam magic jar, atur settingan dari “warm” jadi “cook”, udah deh, tinggal tunggu masaknya. Gampang tenan.
Tapi saudara, entah kenapa, di hari pertama saya memasakkan nasi untuk suami saya, hasilnya di luar dugaan. Nasinya lembeeek sekali. Seperti nasi tim untuk orang yang sakit maag akut.
Aduh…..kenapa bisa jadi gini sih??? Perasaan saya sudah memasak dengan benar. Saya sudah memberi air yang cukup. Seukuran satu ruas jari telunjuk di atas beras yang akan kita tanak toh? Seperti itulah yang pernah diajarkan pada saya. Dan memang berhasil selama ini. But it didn’t work that day! Oh…kenapa? Jawabannya ada pada penjelasan ilmiah suami saya. Tapi nanti dulu. Saya ingin bercerita tentang pagi itu.
…read more…
lucky me
Harusnya saya menulis dua minggu yang lalu..
Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini.
Saat merasakan euforia bisa bertatap-muka dengan pulau tertimur Indonesia.
Saat lelah menempuh perjalanan total 21 jam dari Jember-Tembagapura, terbayar dengan senyum menenangkan kekasih saya.
What a trip.
Sejak dulu saya memang menyimpan keinginan terpendam untuk bisa sampai di pulau ini. Entah kapan tepatnya keinginan itu muncul, yang pasti, saat di Bolang, keinginan itu makin kuat. Dan fortunately, gak pernah kesampean. Hiks.
Maha halus dan detil Ia yang menulis skenario hidup, alhamdulillah dengan caraNya, dibawaNya juga saya ke pulau ini, with a better purpose.
Tentu saja hati saya menari dan menyanyi dengan suka cita!
Lucky we’re in love in every way…
Lucky to have stay where we have stay
Lucky to be coming home someday…
Thank you for bringing me here, hunny :*
T.T
tadi pagi saya buka imel. ada notifikasi facebook, seorang teman mengomentari album foto saya. memberi selamat atas pernikahan dan mendoakan kebaikan bagi kami. saya buka link-nya dan langsung terhubung dengan komen tersebut. saya agak kaget karena ternya ada juga beberapa komen di album tersebut, memberi selamat juga, mendoakan juga, tapi tidak saya balas sepatah kata pun. padahal tanggal komennya sudah sekitar 4 bulan yang lalu. ya tuhan, sebegitu sombongnya kah saya…
padahal komen2 itu sebetulnya sudah pernah saya baca lewat notifikasi imel juga. dulu. dan saya terlalu malas untuk langsung klik link dan membacanya di fb langsung, ataupun membalasnya.
kemudian saya buka2 juga inbox fb saya. astaghfirullah…ternyata ada juga beberapa pesan dari teman, beberapa pembicaraan dan pertanyaan yang menggantung tidak saya balas ataupun saya jawab.
sungguh. saya tidak bermaksud mengacuhkan pesan-pesan itu. saat itu, saat membaca notifikasi di imel, saya terlalu malas untuk membuka langsung fb saya dan membalas inbox ataupun komen. saya menundanya dan seringnya berkata dalam hati akan dijawab nanti. dan ternyata kelupaan sampe sekarang. huhu…keterlaluan sekali saya ini. mau bals sekarang kok ya udah jauh banget tanggalnya. uh….sekarang baru deh nyesel.
kejadian itu kadang-kadang juga terjadi lewat hp, by sms.
duh, siapapun, maafkan aku..T.T
Pak Guru, Bu Guru, Saya Mau Diajak Kemana?
Perbincangan pada suatu sore, ditemani bakso yang rasanya aneh.
Teman 1 : Lha sampeyan digaji piro nang SD kono? (Kamu digaji berapa dari sekolahan disana?)
Teman 2 : Alahh..yo cukup nggo tuku uyah.. (Cukup lah buat beli garam)
Saya : Hanya mengamati sambil mengunyah bakso dan berpikir beli aqua di mana ya.
Pak baksonya gak nyediain minum dan di kampus ini kayaknya gak ada kantinnya
(saya baru ikut kuliah waktu itu).
Masak makan bakso tanpa minum??
Teman 2 : Sekitar siji setengah…. Siji setengah juta (satu setengah juta)
Teman 1 dan Teman 3 : Oh.
Saya : Masih mengunyah sambil ikut bersyukur…ternyata gajinya layak. Sama kayak gaji BDP dulu.
Teman 2 : Yo gak rek, satus seket. (Enggak kok, becanda. Cuma seratus lima puluh ribu)
Saya : Hah?? Berhenti mengunyah. Masya Allah… Anaknya kan dua. Suaminya juga hanya kerja serabutan
Teman 1 : Yo mending mbak. Aku lho mek wulungpuluh (Masih mending mbak, di sekolahku cuma Delapan puluh ribu sebulan)
Saya : Astaghfirullahal’adzim!
Mosok mbak?
…read more…